Kumcer “1 Negeri, 10 Kisah” – Petra Career Center

1 negeri 10 kisah“Siapa bilang anak-anak muda kita masa bodoh dengan sejarah negeri sendiri?”

Pertanyaan inilah yang dicoba untuk dijawab melalui kumpulan cerpen self-published bertajuk “1 Negeri, 10 Kisah” ini. Jujur, ketika ditawari mengulas buku ini, saya sempat ragu. Masalahnya, saya terbilang jarang membaca buku karya pengarang Indonesia – apalagi yang debutan. Namun ketika diberi tahu bahwa sejarah menjadi tema utama kumcer ini, saya langsung tertarik. Sekali-kali mencoba rasa baru tak apalah. Dan kali ini, tidak ada kekecewaan di ujung pengalaman “icip-icip” ini.

Sejarah bagaimana kumcer ini bisa terbit terbilang menarik. Dimulai dari pelaksanaan Creative Writing Workshop yang diadakan Petra Career Center di Universitas Kristen Petra 28 Mei 2016 lalu, terbentuklah kerjasama antara panitia dan para pembicara workshop untuk mengadakan proyek membuat kumpulan cerpen bersama mahasiswa. Sepuluh cerpen dari mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari berbagai jurusan pun terpilih untuk dipublikasikan. Memang kesepuluh penulis muda ini masih boleh dibilang newbie, tapi karya merekalah yang dipilih oleh dua pembicara workshop yaitu Bapak Ang Tek Khun (Direktur Penerbit Gradien Mediatama) dan Bapak Brilliant Yotenega (Co-founder Nulisbuku.com), serta Jessie Monika selaku perwakilan dan penyelenggara workshop. Kisah selengkapnya tentang latar belakang terbitnya kumcer ini dapat dibaca pada bagian Prakata.

Sepuluh cerpen di dalam buku ini adalah sebagai berikut:

  1. Si Kelinci dan Si Singa, oleh Rina Pricelya Ibrahim

Kisah persahabatan antarsuku di tengah gejolak kerusuhan rasial yang terjadi pada Mei 1998.

“…saat melihat sekitarnya, teman-temannya, atau keluarganya, membenci suku yang berbeda dari mereka, akhirnya mereka belajar untuk membenci suku yang lain. Tapi, seperti mereka bisa belajar untuk membenci, mereka juga bisa belajar untuk saling memahami, kayak Zena dan Freya. Mereka juga harus sadar kalau perbedaan ada supaya kita sama-sama bisa maju, tidak untuk dipermasalahkan.”

  1. Galuh, oleh Monica Agnes

Sekilas seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi yang pria adalah prajurit Majapahit, dan yang wanita adalah dayang putri Sunda, dan waktu itu terjadi Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda.

  1. Blue Amy, oleh Yomaldia Alfa Prilly Telussa

Di pedalaman Halmahera, hidup suku Lingon yang orang-orangnya memiliki mata biru dan rambut pirang. Ini secuplik kisah tentang mereka.

  1. Izakod Bekai, Izakod Kai, oleh Mozes Adiguna Setiyono

Berlatar belakang sejarah pembebasan Irian Barat, cerpen ini menyebut seorang tokoh nasional Papua yang mungkin belum banyak dikenal, J.A. Damari.

  1. Mei, oleh Ivonne Muliawati Harsono

Juga mengambil tema Mei 1998, namun kali ini lebih memfokuskan pada trauma yang dialami korban—yang membekas bahkan bertahun-tahun setelah kejadian, dan bermil-mil jauhnya dari tempat peristiwa itu terjadi.

“Aku masih ingat betapa aku dulu menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Segala perjuanganku untuk mendekatkan orang-orang keturunan dan pribumi, seperti aku dan Dimas dulu, seakan tidak ada artinya lagi. Di mana negaraku saat aku membutuhkannya? Di mana nasionalisme saat mereka merenggut Mama?

  1. Le Soldat, oleh Natalia Angel

10 November 1945. Warga Surabaya bersiap bertempur melawan penjajah Inggris, termasuk seorang pemuda Prancis bernama Abelard Durand.

  1. Terpendam, oleh Jossy Vania Christiani

Salah satu cerpen yang paling menguras emosi, yang berkisah tentang bagaimana rasanya menjadi warga Tionghoa dan sekaligus keturunan orang yang dituduh pernah terlibat PKI, di zaman modern ini.

  1. Senja di Batavia, oleh Irene Priscilla Wibowo

Melihat jauh ke belakang ke tahun 1740, cerpen ini menengok kehidupan orang Cina yang tinggal di perkampungan di pinggiran Batavia, dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

  1. Jalesveva di Antara Bintang-Bintang, oleh Yeremia Tulude Ambat

Kisah cinta muda-mudi berlatar belakang kota Surabaya, termasuk beberapa tempat yang terasa sangat familier bagi saya seperti Jalan Jakarta, Jalan Indrapura, hingga Monumen Jalesveva Jayamahe yang berdiri gagah di ujung utara kota Surabaya.

  1. Aku, Kamu, Kita, oleh Clarissa Monica

Cerpen penutup yang mengambil latar belakang kota Solo, dan, sekali lagi, Mei 1998. Kisahnya sederhana tapi memiliki makna yang dalam, tentang pentingnya “kita”, dan bagaimana upaya untuk terus-terusan mempertahankan “ke-aku-an” dapat menghancurkan “kita”, yaitu kepentingan bersama. Cerpen ini terasa relevan sekali dengan kondisi Indonesia sekarang ini…

“Nyali harus bergandengan dengan empati, kemauan untuk menghargai, dan untuk peduli kepada orang lain. Letak keberanian kita sesungguhnya adalah ketika si ‘aku’ itu berani menyingkirkan ke-aku-an, dan bersatu dengan ‘aku-aku’ yang lain menjadi ‘kita’. Dan itulah sumber kekuatan untuk melakukan perubahan bagi Indonesia…”

 


Secara keseluruhan saya menilai buku bercover merah terang ini bagus dan layak direkomendasikan. Cerpen favorit saya? Cerpen no. 5 dan no. 10. Memang ada beberapa penulis yang saya rasakan teknik menulisnya masih mentah, dan ada juga yang style-nya terlalu cheesy bagi selera saya, but still, it’s a good start. Usaha mereka untuk melakukan riset sebelum menulis juga patut diacungi jempol. Buku ini juga dilengkapi dengan profil singkat penulis di akhir masing-masing cerpen, dan ilustrasi yang semakin mempercantik buku.

Pada akhirnya, kumpulan cerpen ini membawa harapan.

Anak muda masih gemar menulis, dan mau berusaha melakukan riset dan membenahi tulisannya hingga matang.

Anak muda masih peduli dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Anak muda menyimpan harapan bagi Indonesia yang bersatu, tidak terpecah belah; Indonesia yang kembali ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Dan satu tambahan harapan dari saya, agar langkah UK Petra mempublikasikan kumcer seperti ini diikuti oleh kampus-kampus lain.

Tertarik memiliki kumpulan cerpen “1 Negeri, 10 Kisah” ini? Hubungi CP Fano atau Jessie via SMS ke 081232273747 atau via e-mail ke careercenter@petra.ac.id. Harga Rp 57.000,-


Detail buku:

Kumpulan Cerpen “1 Negeri, 10 Kisah”, oleh Petra Career Center

141 halaman, diterbitkan tahun 2016 secara mandiri melalui Nulisbuku.com

Rating: ♥ ♥ ♥

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa – Maggie Tiojakin

sktla

Masyarakat modern pada umumnya sudah terjebak dalam pola hidup yang sibuk, serba tergesa-gesa, dan mobilitas tinggi. Semua orang larut dalam peran sebagai “aktor” dalam kehidupan masing-masing. Hampir tak ada waktu untuk berhenti sejenak untuk sekedar menjadi “penonton” atau “pengamat.” Kumpulan cerita pendek bertajuk “Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa” (SKTLA) ditulis oleh Maggie Tiojakin setelah melakukan riset yang intens, dengan kata lain beliau mengamati kehidupan manusia dan mencatat detail-detail kecil yang sering terlewatkan oleh kita yang sibuk. Melalui SKTLA, Maggie menuturkan kembali pengalaman-pengalaman yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan satu bumbu istimewa: absurditas. Yang dimaksud dengan absurditas adalah hal-hal yang tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Lantas apa hubungan absurditas dengan pengalaman hidup sehari-hari? Bagi Maggie, semua tentang kehidupan adalah hal yang absurd (hal. 237).

Beberapa judul cerita yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari dalam buku ini menyoroti pergumulan hubungan suami-istri. Misalnya dalam cerita Kota Abu-Abu (hal. 64), penulis membenturkan ide tentang comfort zone dengan komitmen sepasang suami-istri, Remos dan Greta, untuk terus hidup bersama. Dalam cerita lainnya, Dia, Pemberani (hal. 138), seorang istri bernama Zaleb terpaksa mengalah dan menuruti kehendak Masaai, sang suami, yang candu terhadap olahraga ekstrim. Sampai pada akhirnya harus ada konsekuensi yang dituai dari aktivitas sarat tantangan yang dilakoni Masaai. Ada juga cerita Tak Ada Badai di Taman Eden (hal. 1) yang mengisahkan konflik batin yang dialami Barney dan Anouk, yang telah mengalami satu peristiwa yang menyebabkan mereka tak lagi sehati sebagai suami-istri. Kemudian ada satu cerita kehidupan sehari-hari yang lebih bersifat individual. Cerita yang seakan-akan memindai pikiran seorang karyawan saat ia sedang mengikuti meeting adalah Jam Kerja (hal. 182). Bayangkan pikiran kita yang melanglang kemana-mana setiap harinya. Kemudian bayangkan bahwa pikiran-pikiran kita “ditelanjangi” dan dituangkan dalam kertas dengan sedemikian jujurnya sampai kita merasa malu membacanya.

Cerita-cerita lainnya menyuguhkan situasi yang tidak biasa, yaitu bencana alam, peperangan dan pembunuhan. Batasan kabur antara yang nyata dan yang khayal menjadi daya tarik cerita Lompat Indah (hal. 28). Ahi, seorang pemuda yang terperangkap banjir di atas genteng rumah, menganggap air yang terus naik adalah tangan-tangan ramah yang siap memeluknya. Sementara cerita dies irae, dies illa (hal. 71), memotret gambaran getir pengalaman penduduk sipil dalam kecamuk peperangan. Kengerian dan depresi dalam masa peperangan juga dapat dirasakan pembaca melalui cerita Kristallnacht (hal. 10), yang disajikan dalam bentuk wawancara dengan seseorang yang mengalami langsung peristiwa penyerangan besar-besaran kepada warga Yahudi di Jerman pada tahun 1938. Cerita berjudul Saksi Mata (hal. 92) juga menarik karena menyorot sungguh fatalnya sikap ketidakpedulian manusia.

Masih ada enam cerita absurd lainnya yang lebih membuat geleng-geleng karena tidak bisa diterima akal sehat. Misalnya Fatima (hal. 41) dan Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa (hal. 188). Serta lima cerita bonus dalam bahasa Inggris yang diselipkan penulis selayaknya bonus track dalam album musik. Beberapa cerita pendek dalam SKTLA telah diterbitkan dalam majalah/jurnal antara lain Every Day Fiction, Kompas, Postcard Shorts, dan Writers’ Journal.

Mungkin cerita-cerita pendek dalam buku ini hampir sama absurd atau anehnya dengan, katakanlah, cerita-cerita pendek yang biasanya dimuat di koran atau majalah. Namun SKTLA tetaplah salah satu bukti kepiawaian menulis seorang Maggie Tiojakin dalam menyajikan cerita (pendek) yang kaya detail, emosional, dan dalam beberapa cerita penuh aksi. Setiap cerita dalam buku ini membawa rasa yang berbeda-beda, dan masing-masing menyisakan pertanyaan, yang kalau bukan retrospektif, ya kontemplatif. Seperti yang disampaikan Maggie dalam halaman Tentang SKTLA di akhir buku, tugas beliau adalah bukan untuk menginspirasi, melainkan bertanya. Pada akhirnya Maggie memberi ruang untuk imajinasi pembaca dengan akhir cerita yang menggantung dan tidak tuntas.

Tentang Pengarang
Maggie Tiojakin adalah seorang penulis sekaligus jurnalis yang tulisannya telah dimuat di banyak media lokal maupun internasional. Beberapa karyanya sebagai penulis antara lain kumpulan cerpen Homecoming (2006) dan Balada Ching-Ching (2010, Gramedia Pustaka Utama), serta novel Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi (2011, Gramedia Pustaka Utama). Selain itu Maggie juga menerjemahkan banyak karya sastra ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerita pendek klasik karya Edgar Allan Poe dan Rudyard Kipling (keduanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama). Kecintaannya terhadap cerita pendek klasik jugalah yang mendorong Maggie untuk menerjemahkan banyak cerita pendek klasik mancanegara yang dapat diakses secara gratis dalam situs Fiksi Lotus (www.fiksilotus.com).

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Buku SKTLA dan bonus notes bulan sabit

Detail buku:

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Cerita-Cerita Absurd, oleh Maggie Tiojakin
241 halaman, diterbitkan Juli 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

A Christmas Carol – Charles Dickens, and The Classics Club’s December meme

Christmas Books by Charles Dickens

[Review in Bahasa Indonesia and English (plus the answer to The Classics Club’s December meme question!)]

A Christmas Carol mungkin adalah cerita Natal yang paling diingat sepanjang masa, kecuali kisah tentang kelahiran Juruselamat itu sendiri. Ebenezer Scrooge adalah seorang pria tua yang hidup di London di era Victoria. Satu fakta mencengangkan mengenai Mr. Scrooge selain bahwa ia luar biasa kikir, adalah bahwa ia membenci Natal. Berikut adalah petikan percakapan Scrooge dengan sang keponakan Fred:

“A merry Christmas, uncle! God save you!” cried a cheerful voice. It was the voice of Scrooge’s nephew, who came upon him so quickly as this was the first intimation he had of his approach.

“Bah!” said Scrooge. “Humbug!”

“Christmas a humbug, uncle!” said Scrooge’s nephew. “You don’t mean that, I am sure?”

“I do,” said Scrooge. “Merry Christmas! What right have you to be merry? What reason have you to be merry? You’re poor enough.”

“Come then,” returned the nephew gaily. “What right have you to be dismal? What reason have you to be morose? You’re rich enough.”

Malam itu, di Malam Natal, hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. Cerita yang pendek, mudah ditebak (kurang lebih karena kita sudah mendengarnya disampaikan dalam berbagai versi yang lebih mudah dicerna) dan ditulis dalam gaya cerita khas Dickens yang kadang memusingkan (saya membacanya dalam bahasa Inggris), namun A Christmas Carol tetaplah sebuah cerita yang tidak bisa didepak dari memori saya.

“I will honour Christmas in my heart, and try to keep it all the year. I will live in the Past, the Present, and the Future. The Spirits of all Three shall strive within me. I will not shut out the lessons that they teach.”

Sekedar info, perkenalan pertama saya dengan A Christmas Carol adalah melalui sebuah buku anak-anak dengan tokoh-tokoh Disney yaitu Miki Tikus dan kawan-kawan. Gober Bebek sebagai Ebenezer Scrooge, Miki sebagai Bob Crachit, Donal tentu saja jadi Fred sang keponakan, dan Hantu Marley adalah Gufi #brbngakakdulu XD Sayangnya saya tidak bisa menemukan buku yang berjudul asli Disney’s Mickey’s Christmas Carol ini di rak buku keluarga. Sepertinya sih sudah diwariskan ke salah satu keponakan saya.

christmas_carol movie

Versi adaptasi A Christmas Carol yang paling terkenal adalah film animasi yang dirilis tahun 2009 besutan Robert Zemeckis. Tidak kurang dari tiga nama beken ada dalam daftar pengisi suara. Yang pertama tidak lain adalah Jim Carrey sang aktor serba bisa, yang dalam film ini mengisi suara Scrooge (termasuk Scrooge kecil, Scrooge muda dan Scrooge tua) dan ketiga hantu (walaupun hantu ketiga rasanya nggak ngomong apa-apa). Kemudian Gary Oldman yang menyuarakan karakter karyawan Scrooge yang miskin tapi punya keluarga besar, Bob Crachit. Tidak hanya itu, pemeran Sirius Black di seri Harry Potter ini juga mengisi suara Marley dan Tiny Tim. Yang terakhir adalah Colin Firth yang mengisi suara keponakan Scrooge, Fred. Menurut saya film ini adalah adaptasi yang bagus, apalagi dialog-dialognya banyak yang sama persis dengan di buku. Entah kenapa rating film ini di IMDb hanya 6.8…?

Saya sebenarnya membaca A Christmas Carol sebagai bagian dari The Christmas Books yang memuat tiga cerita pendek bertema Natal karya Charles Dickens. Dua cerita lainnya berjudul The Chimes dan The Cricket on the Hearth. Namun saya masih malas baca dua cerita yang lain, jadi setor review untuk A Christmas Carol saja dulu yah. Empat bintang buat kisah pertobatan Scrooge! 🙂


Review in English + The Classics Club’s December meme:

A Christmas Carol is, no doubt, the most remembered story about Christmas other than the nativity story itself. Set in Victorian England, the story tells us about the old miser Ebenezer Scrooge, a stingy man who hated Christmas. Then at Christmas Eve, his late work partner Marley came to him in a shape of a ghost to warn him of the coming of three ghosts of Christmas: Ghost of Christmas Past, Ghost of Christmas Present, and Ghost of Christmas Yet to Come. They would take Scrooge in a journey beyond time and space, a journey to self redemption.

I love the animated adaptation of A Christmas Carol (2009) directed by Robert Zemeckis, with Jim Carrey as Scrooge. I think that this adaptation is good because the dialogues hadn’t been changed much from the book. However, I don’t know why the rating for this movie on IMDb is only 6.8.

My first acquaintance with A Christmas Carol was with a children book called Disney’s Mickey’s Christmas Carol, in which Scrooge McDuck was Ebenezer Scrooge (of course), Mickey Mouse was Bob Crachit, and Goofy was the ghost of Marley (sorry, I have to laugh at this. Hahahaha.) The book was given to me as a child. Unfortunately, I can’t find the book on the family’s bookshelves now, probably it has been given to one of my nephews and nieces. And this, to answer The Classics Club’s December meme question, was my favorite memory about A Christmas Carol.

christmascarol1

A scene from Disney’s Mickey’s Christmas Carol

Now, after reading the original story, though it was written in sometimes confusing Victorian style, made my love for it even bigger. Four stars for a Christmas story that will always remain in my memory.

Book details:

A Christmas Carol, by Charles Dickens, first published 1843
Read as a part of The Christmas Books, 234 pages, published 2007 by Penguin Popular Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

18th review for The Classics Club Project


This post is also a late entry for the event Dickens in December. (Button below)

dickens-button-01-resized

The Jungle Book – Rudyard Kipling, and a Wrap-Up for A Victorian Celebration!

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Ini review yang harusnya ditulis berbulan-bulan yang lalu, tapi better late than never kan ya? 😉

Awalnya sukar untuk menghilangkan kesan “Disney-ish” dalam benak saya terhadap buku ini, apalagi karena covernya memang mengadaptasi film kartun The Jungle Book versi Disney. Namun ketika saya mulai membacanya, saya pun larut dalam suatu Rimba ciptaan Rudyard Kipling yang begitu liar dan begitu nyata.

Buku yang memuat gabungan cerpen dan puisi ini dibuka dengan ditemukannya bayi manusia di hutan rimba, yang kita kenal dengan nama Mowgli. Dalam cerpen Mowgli dan Saudara Serigala, anak manusia yang dimangsa oleh Shere Khan si Harimau Pincang dibela mati-matian oleh Mama dan Papa Serigala, dan malah nantinya merekalah yang membesarkan Mowgli yang licin tak berbulu. Tumbuh besar di Bukit Batuan di tengah-tengah saudara-saudara serigala, Mowgli diajarkan bagaimana hidup di Rimba oleh Beruang Hitam Baloo dan Macan Kumbang Hitam Bagheera. Pada saatnya nanti (di cerpen Harimau Harimau), Mowgli harus berhadapan sendiri dengan Shere Khan, yang dari awal sudah menetapkan hati untuk menghabisi Mowgli. Di dalam cerita Mowgli juga bertemu dengan Kaa, si ular piton sepanjang tiga puluh kaki yang ditakuti kaum monyet, namun sebenarnya baik hati dan ikut andil menyelamatkan nyawa Mowgli.

“Kita ini satu darah, kau dan aku,” jawab Mowgli. “Aku berutang nyawa padamu, malam ini. Buruanku akan menjadi buruanmu jika kau lapar, wahai Kaa.”

Klimaks kisah Mowgli diceritakan dengan gemilang dalam adegan pertarungan menegangkan antara Mowgli dan Shere Khan. Di cerita yang lain, Mowgli dikisahkan kembali hidup di desa bersama dengan saudara-saudara manusianya, tetapi ia tidak merasa betah dan rindu kembali ke Rimba, rindu saudara-saudara serigalanya. Mowgli tidak mengerti sistem kasta yang berlaku di dunia manusia, sehingga ia gampang saja mengulurkan tangan untuk membantu seorang pembuat tembikar yang kastanya lebih rendah daripadanya.

Tidak semua bagian dari The Jungle Book berkisah tentang Mowgli. Dalam cerpen Anjing Laut Putih, Kipling menceritakan tentang Kotick, seekor bayi anjing laut berkulit putih, di tengah suasana migrasi para anjing laut. Saat Kotick sudah lebih dewasa, ia berkeinginan untuk mencari pulau yang baru untuk migrasi yang jauh dari manusia. Walau sempat menemui pertentangan anjing laut-anjing laut lain, dengan berusaha keras akhirnya ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Beirkutnya cerpen “Rikki-Tikki-Tavi” yang menceritakan petualangan Rikki-tikki-tavi, seekor mongoose, yang berjuang melindungi tuannya, keluarga manusia yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki bernama Teddy, dari serangan ular kobra Nag dan Nagaina. Buku ditutup dengan cerpen Toomai Sang Penakluk Gajah. Toomai Mungil dikisahkan sangat beruntung karena bisa menyaksikan Tarian Para Gajah di jantung Bukit Garo, sesuatu yang tidak pernah disaksikan manusia manapun sebelumnya!

Dari semua puisi di buku ini, yang dibawah ini termasuk favorit saya (“Perburuan Kaa”)

Macan cintai tutulnya,
Banteng bangga pada tanduknya.
Waspadalah, bagaimana ia sembunyi
itulah kekuatannya.
Kau tahu sapi bisa menendangmu,
tanduk tebal Sambhur menerjangmu
Tak perlu kami kau beritahu,
kami tahu sedari sepuluh musim lalu.
Jangan sakiti anak si hewan liar,
anggaplah ia saudara
Walau kecil dan montok,
Beruanglah ibunda mereka
“Tak ada yang kalahkan kami!” ujar si kecil
bangga saat pertama berburu
Rimba begitu luas dan ia begitu mungil.
Ajari ia diam dan tak sok tahu.

Walaupun berkisah tentang binatang, ada banyak nilai moral yang bisa diambil pembaca dari fabel ini. Misalnya tentang persaudaraan serigala yang begitu erat dan kuat, juga Hukum Rimba yang diceritakan adil bagi semua pihak. Tiga bintang bagi Rimba ciptaan Rudyard Kipling. Juga karena terjemahan oleh Anggun Prameswari yang enak dibaca. Jujur saja sebenarnya saya kurang suka cover “Disney-ish” buku ini, tapi OK lah kalau memang menyasar ke segmen anak-anak.

Detail buku:
“The Jungle Book”, oleh Rudyard Kipling
246 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria (pertama kali diterbitkan tahun 1894)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

 At first it was hard to get rid the “Disney-ish” aura from this book. But as I started reading, I found that the author is drowning me into a world, to be more specific a Jungle, where it all felt wild and strangely real. This book contains short stories and poems, which the first short story introduced us to Mowgli, a son of man that was raised by wolves in the Jungle. In order to defeat his enemy, the tiger Shere Khan, Mowgli was being taught how to to live in the jungle and to fight by Bagheera the black panther and Baloo the bear. There are other stories that don’t tell readers about Mowgli, like The White Seal, Rikki-Tikki-Tavi, and Toomai of the Elephants. This work of fable has a moral tone that we humans could learn from. Take the strong bond of brotherhood of the wolves, and how The Rule of the Jungle is fair to every living being in it. Overall, I gave three stars for Rudyard Kipling’s The Jungle Book.

10th review for The Classics Club Project, 4th review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classic Bribe


This post also marks my wrap-up for A Victorian Celebration.

From the 9 books I intended to read at the beginning of the event, I was only able to finish 5:

The Happy Prince by Oscar Wilde

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Just So Stories by Rudyard Kipling

The Jungle Book by Rudyard Kipling

And one non-English Victorian novel, which is Anna Karenina by Leo Tolstoy. I haven’t got enough time to write its review, along with a review of Great Expectations BBC miniseries (2011) that I intend to write also. I’ll be writing them very soon!

I also wrote one author focus on Rudyard Kipling (in Bahasa) for A Victorian Celebration. I’m glad I joined this event, even though I haven’t had enough time to finish all the books in my reading list, and honestly I’m still having difficulties in understanding some Victorian idioms (like those in Charlotte Brontë’s Villette). But well, that won’t keep me from reading more of them Victorian works! So you see, A Victorian Celebration isn’t over for me yet! 😉

Just So Stories – Rudyard Kipling

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Adakah buku yang membuatmu ingin mengulang kembali masa kanak-kanak? Setelah membaca buku yang satu ini, saya jadi berangan-angan kembali menjadi anak kecil, mendengarkan cerita-cerita ini dibacakan oleh ayah atau ibu saya sebagai dongeng pengantar tidur.

Kenapa paus tidak memakan manusia? Tahukah kamu bagaimana unta mendapatkan punuknya? Atau dari mana macan mendapatkan tutulnya? Mengapa gajah punya belalai yang panjang? Mengapa kanguru melompat dengan kaki belakangnya? Dan tahukah kamu tentang asal muasal alfabet? Pembaca akan dibuat geleng-geleng oleh kejeniusan Rudyard Kipling dalam buku setebal 160 halaman ini. Setiap cerpen dalam buku ini diakhiri dengan puisi  yang jenaka.

Berikut ini adalah dua belas judul cerpen yang terkandung dalam Just So Stories:

  1. Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia (How the Whale Got His Throat)
  2. Bagaimana Unta Mendapat Punuknya (How the Camel Got His Hump)
  3. Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan (How the Rhinoceros Got His Skin)
  4. Dari Mana Macan Mendapat Tutulnya (How the Leopard Got His Spots)
  5. Kisah Si Anak Gajah (The Elephant’s Child)
  6. Tuntutan Seekor Kanguru (The Sing-song of Old Man Kangaroo)
  7. Asal-Muasal Armadilo (The Beginning of the Armadillos)
  8. Surat Bergambar (How the First Letter was Written)
  9. Bagaimana Alfabet Dirumuskan (How the Alphabet was Made)
  10. Kepiting dan Lautan Luas (The Crab that Played with the Sea)
  11. Kucing Penyendiri (The Cat that Walked by Himself)
  12. Entakan Kaki Kupu-Kupu (The Butterfly that Stamped)

Dua belas pourquoi stories (cerita yang mengisahkan asal-usul sesuatu) karya  Kipling dalam kumcer Just So Stories ini pertama kali terbit tahun 1902. Edisi asli Just So Stories juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi goresan tangan Kipling sendiri. Sekarang, 110 tahun kemudian, Just So Stories bisa dinikmati dalam bahasa Indonesia (diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin, yang juga menerjemahkan Kisah-kisah Tengah Malam dan Fiksi Lotus Vol. 1) lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang oleh Staven Andersen.

Mengapa harus digambar ulang? Setelah membandingkan dengan ilustrasi karya Kipling yang asli, saya mengambil kesimpulan bahwa dengan ilustrasi-ilustrasi yang digambar ulang, Just So Stories tampil lebih segar dan menarik.

Perhatikan perbandingan ilustrasi asli karya Kipling dan reinterpretasi oleh Staven Andersen di bawah ini.

Ilustrasi oleh Rudyard Kipling

Ilustrasi oleh Staven Andersen

Kipling bahkan menyebutkan beberapa nama pulau di Indonesia pada cerpen Kepiting dan Lautan Luas.

”Kun?”* tanya Penyu.

”Payah kun,”** kata Penyihir Tua; dan ia meniup pasir dan bebatuan itu hingga jatuh ke laut dan menjadi gugusan pulau yang indah, dan yang bernama Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, berikut pulau lain yang berada di sekitar daerah kepulauan Malaka. Kalian bisa mencari lokasi ini di peta!

* ”Apakah benar begini?”
** ”Sudah cukup benar.”

Hetih Rusli sang editor boleh berkata bahwa Just So Stories adalah hasil ”proyek senang-senang” yang dikerjakan bersama dengan penerjemah dan ilustrator, namun hasilnya saya pun bersenang-senang dan sangat menikmati membaca buku ini dari awal hingga akhir. Saya bisa membuka buku ini lagi minggu depan, lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi tanpa merasa bosan dengan isinya. Tiga bintang untuk kejeniusan om Rudyard Kipling, satu bintang untuk terjemahan mbak Maggie Tiojakin dan editan mbak Hetih Rusli yang apik, dan satu lagi bintang untuk Staven Andersen yang sudah menggoreskan ilustrasi-ilustrasi yang ciamik!

Rudyard Kipling (1865-1936) adalah novelis, cerpenis, penyair, dan jurnalis asal Inggris yang terkenal dengan kisah-kisah fabel dalam kumpulan cerita pendek The Jungle Book. Beliau meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1907. Lebih lanjut mengenai Rudyard Kipling baca di sini.

Detail buku:
“Just So Stories” (“Sekadar Cerita”), oleh Rudyard Kipling
160 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1902)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

 


Conclusion:

Is there any book that makes you want to repeat childhood? After reading this book, I wish I could go back being a child and listen to my dad or mom reading aloud this book while I’m tucked in bed, getting ready to sleep. I just love these twelve hilarious pourquoi stories Rudyard Kipling wrote, along with the poems at the end of every short story.

This is the poem at the end of The Crab That Played with the Sea:

To Penang instead of Lagos,
Or a fat Shaw-Savill bore
Passengers to Singapore,
Or a White Star were to try a
Little trip to Sourabaya,
Or a B.S.A. went on
Past Natal to Cheribon,
Then great Mr. Lloyds would come
With a wire and drag them home!

Could it be that Kipling mentioned my hometown in this poem? Because here in Indonesia I live in a city called Surabaya. (wonder where in the world is Surabaya? Check out the map below!)

In this short story Kipling also mentioned a few islands of Indonesia as follows:

‘Kun?’ said All-the-Turtle-there-was.

‘Payah kun,’ said the Eldest Magician; and he breathed upon the sand and the rocks, where they had fallen in the sea, and they became the most beautiful islands of Borneo, Celebes, Sumatra, Java, and the rest of the Malay Archipelago, and you can look them out on the map!

I just love that.

In the Indonesian version of Just So Stories, Kipling’s original illustrations were re-interpreted by a local illustrator, Staven Andersen, and I must say that he did one hell of a job! (see the comparison at the middle of the post)

I could reread this book next week, five years from now, or ten years from now without feeling bored of its contents. Five stars for a book that I read with delightful enjoyment from the first until the last page.

Read Just So Stories online here –> http://boop.org/jan/justso/

9th review for The Classics Club Project, 3rd review for A Victorian Celebration, 5th review for The Classic Bribe

Pangeran Bahagia – Oscar Wilde

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Dongeng untuk segala usia. Buku tipis yang berisi lima cerita pendek karya Oscar Wilde ini sungguh sayang untuk dilewatkan dan menyenangkan untuk dibaca berulang-ulang. Lewat untaian kata-kata yang indah, cenderung tragis, dan penuh sindiran, Wilde berusaha mengajak pembaca untuk berhenti dan merenungkan apa artinya menjadi manusia seutuhnya. Bahwa manusia diciptakan satu paket dengan kemampuan untuk mencintai dengan tulus, apakah kita sudah mampu untuk melakukannya? Inilah kelima cerpen yang termuat dalam kumcer Pangeran Bahagia:

1. Pangeran Bahagia (judul asli: The Happy Prince)

Pangeran Bahagia adalah sebuah patung yang berdiri di atas tiang tinggi dan menatap kota dari ketinggian. Tubuh sang Pangeran bersepuhkan emas murni, matanya dari batu safir, dan pedang yang dipegangnya berhiaskan batu delima besar yang berkilauan. Suatu ketika seekor burung Walet mungil terbang mendatangi sang Pangeran dan bertengger di bahunya. Saat itulah, Walet kecil mendapati bahwa sang Pangeran tidak bahagia sama sekali! Sang Pangeran kemudian memohon si Walet kecil untuk membantunya merasa bahagia, dan si Walet mengabulkan permintaannya, meskipun rencananya untuk terbang ke Mesir menyusul kawanannya yang migrasi karena musim dingin harus tertunda. Di akhir cerita, pembaca akan menemukan apa sebenarnya yang diperlukan untuk menjadi bahagia, dan bukan tidak mungkin akan menitikkan air mata haru. :’)

2. Bunga Mawar dan Burung Bulbul (judul asli: The Nightingale and the Rose)

Seorang Pelajar Muda hendak memberikan sekuntum bunga mawar merah untuk gadis yang dicintainya, namun ia tidak mendapatinya dimana-mana. Seekor burung bulbul mendengar si pemuda menangis karena putus asa, dan saat itu juga Burung Bulbul memutuskan untuk menolongnya.

“Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati,”  kata si Burung Bulbul. “Malam demi malam aku bernyanyi untuknya, meskipun aku tidak mengenalnya. Malam demi malam juga telah kuceritakan kepadanya cerita tentang bintang-bintang, dan akhirnya bisa juga kusaksikan sang kekasih sejati. Rambutnya sehitam bunga bakung, dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; tapi keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesengsaraan tergambar jelas di keningnya.”

Maka dimulailah pencarian si Burung Bulbul akan sekuntum mawar merah, pencarian yang akan membuatnya melakukan pengorbanan yang amat menyakitkan…

3. Raksasa yang Egois (judul asli: The Selfish Giant)

Konon, ada seorang Raksasa yang memiliki sebuah taman yang besar dan indah, dan anak-anak sangat suka bermain di taman itu. Setelah kembali dari bepergian selama tujuh tahun, sang Raksasa merasa tidak senang akan anak-anak yang bermain di tamannya, dan ia memasang papan pengumuman yang berbunyi, “Barangsiapa yang sembarangan masuk akan dihukum”. Anak-anak merasa sedih, dan Musim Semi dan Musim Panas mendengar kesedihan mereka sehingga mereka enggan menghampiri kediaman sang Raksasa. Hasilnya, Musim Salju beserta kawan-kawannya yang berpesta pora melingkupi taman sang Raksasa. Suatu hari, tiba-tiba taman sang Raksasa dilingkupi Musim Semi yang paling indah, dan ia melihat seorang anak yang sangat mungil yang berusaha untuk mencapai cabang-cabang pohon. Hati sang Raksasa tersentuh melihatnya, namun sesudah itu ia tidak lagi melihat si anak mungil yang misterius tersebut. Siapakah ia?

4. Teman yang Setia (judul asli: The Devoted Friend)

Apakah kamu merasa bahwa dirimu seorang teman yang setia? Cobalah baca cerpen yang satu ini, dan simak percakapan antara seekor Tikus Air tua dan Burung Pipit. Burung Pipit bercerita kepada Tikus Air tua mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans, dan “teman sejati”nya, si Tukang Giling. Membaca kisah ini mengingatkan saya akan sebuah kisah yang diceritakan Nabi Natan kepada Daud* tentang seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba, namun ia mengambil domba satu-satunya milik tetangganya yang miskin, untuk disajikan bagi tamunya. Egois! Demikian pula si Tukang Giling, karakter yang akan membuatmu sebal luar biasa. Namun setelah itu bercerminlah, apakah dirimu seorang teman yang sejati, tanpa tanda kutip?

*2 Samuel 12:1-4

5. Roket yang Luar Biasa (judul asli: The Remarkable Rocket)

Orang yang berkoar-koar bahwa dirinya paling penting, kemungkinan besar akan sampai pada akhir yang menunjukkan bahwa ia tidak sepenting yang ia kira. Sepertinya inilah pesan yang ingin disampaikan Oscar Wilde melalui cerpen ini. Kita akan melihat sebuah kerajaan yang sedang berpesta atas pernikahan sang putra mahkota dengan seorang putri yang sangat cantik. Semua kembang api berlomba-lomba memeriahkan pesta itu, mulai dari si Petasan mungil, Mercon besar, Kembang Api Kicir-kicir, Cerawat, dan si Lentera Terbang. Namun sang Roket yang Luar Biasa malah mengoceh tak karuan, dan akhirnya tidak berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya, dan malah jadi tersia-sia. Akibat omong besar, kejayaan berlalu begitu saja dari dirinya.

Empat bintang buat buku ini!

Detail buku:
“Pangeran Bahagia” (judul asli: “The Happy Prince and Other Stories”), oleh Oscar Wilde, penerjemah: Risyiana Muthia
108 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta (terbit pertama kali Mei 1888)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tentang Oscar Wilde

Sastrawan legendaris bernama lengkap Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (inisialnya O.F.O’F.W.W.) yang hidup tahun 1854-1900 ini lahir di Dublin, Irlandia, dan terkenal akan karya-karyanya yang beragam, mulai cerpen, novel, puisi, esai, dan lakon, dan juga akan kisah hidupnya yang kontroversial. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah The Happy Prince and Other Stories (1888), The Picture of Dorian Gray (novel, 1890), Lord Arthur Savile’s Crime (kumpulan cerpen, 1891), Lady Windermere’s Fan (lakon, 1892), A Woman of No Importance (lakon, 1893), An Ideal Husband (lakon, 1895), dan The Importance of Being Earnest (lakon, 1895). Berikut adalah kredo kepenulisan seorang Oscar Wilde yang termuat dalam pengantar novel The Picture of Dorian Gray:

“Tak ada yang namanya buku bermoral atau tak bermoral. Yang ada hanyalah buku yang ditulis dengan baik atau yang ditulis dengan buruk.”


 Conclusion:

I really don’t have much to say about this book. It was wonderful: beautiful, tragic, and satirical. It makes readers stop and contemplate from the stories; are we truly a complete human being? Are we capable of loving our neighbors with all our heart? Are we capable of loving so much that we are willing to make sacrifices for those we love? Are we selfish or selfless? Are we truly a devoted friend towards others? Do we boast much? These are the questions that popped into my head during and after reading this collection of short stories. This book is—with no doubt, a collection of tales for any age. 4 from 5 stars for The Happy Prince!

1st review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classics Club Project, 2nd review for The Classic Bribe

Fiksi Lotus, Vol. 1: Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

[Conclusion in English at the bottom of this post]

Jika buku diibaratkan makanan, maka buku ini tampilannya memikat dan menggugah selera. Diangkat dari situs cerita pendek klasik Fiksi Lotus yang diprakarsai Maggie Tiojakin, Fiksi Lotus Vol. 1 membukukan beberapa cerpen pilihan dari situs tersebut.

Tidak kurang dari 14 cerpen dikumpulkan dalam buku setebal 184 halaman ini, yaitu sebagai berikut:
1. Teka-teki (“The Riddle”) karya Walter De La Mare
2. Ramuan Cinta (“The Chaser”) karya John Collier
3. Sang Ayah (“The Father”) karya Bjornstjerne Bjornson
4. Pemberian Sang Magi (“The Gift of the Magi”) karya O. Henry
5. Menembus Batas (“The Interlopers”) karya Saki
6. Dilema Sang Komandan (“The Upturned Face”) karya Stephen Crane
7. Persinggahan Malam (“A Clean, Well-Lighted Place”) karya Ernest Hemingway
8. Gegap Gempita  (”Rapture”) karya Anton Chekov
9. Charles karya Shirley Jackson
10. Dering Telepon (“The Telephone Call”) karya Dorothy Parker
11. Pesan Sang Kaisar (“A Message from the Emperor”) karya Franz Kafka
12. Republick (“Evil Adored”) karya Naguib Mahfouz
13. Menjelang Fajar (“The Wall”) karya Jean-Paul Sartre
14. Kalung Mutiara (“A String of Beads”) karya W. Somerset Maugham

Dari keempat belas cerpen ini, 2 yang menjadi favorit saya, Sang Ayah karya Bjornstjerne Bjornson dan Pemberian Sang Magi karya O. Henry, sudah pernah saya baca di kumpulan cerpen klasik terjemahan dari penerbit lain. Sang Ayah menceritakan tentang dedikasi seorang ayah kepada putranya tercinta, dari saat putranya baru lahir hingga dewasa. Akhir ceritanya menyentuh dan mendorong pembaca untuk merenung. Sedangkan Pemberian Sang Magi, salah satu karya terbaik O. Henry menurut saya, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang hendak memberikan hadiah Natal istimewa kepada pasangannya, meskipun sebenarnya mereka tidak punya uang. Cerpen lainnya yang menarik dari buku ini adalah Menembus Batas karya Saki, yang mengisahkan tentang dua keluarga yang bermusuhan selama tiga generasi. Suatu hari masing-masing kepala keluarga dari dua musuh bebuyutan itu bertemu dalam keadaan yang menentukan hidup dan mati mereka. Cerpen yang ini menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya manusia dan rasa benci yang mereka rasakan, alam masih lebih kuat dan sekali alam diijinkan Sang Pencipta untuk memukul manusia, pukulannya tidak tanggung-tanggung. Satu lagi yang membuat saya merenungkan makna kebaikan dan kejahatan adalah cerpen Republick karya Naguib Mahfouz. Agak sulit mendeskripsikan cerpen yang satu ini, yang berusaha menyampaikan pesan bahwa dunia ini tidaklah sempurna, kalaupun kedamaian sempat bertahta untuk beberapa waktu, tidak lama kemudian kejahatan akan kembali merampas keadaan. Betapa samanya dengan kondisi dunia sekarang ini.

Empat cerpen itulah yang punya tempat khusus di hati saya, sementara 10 lainnya bagi saya biasa-biasa saja. Seperti yang saya singgung di awal review, buku yang satu ini tampilannya menggugah selera, namun setelah saya mencicipinya, kok ternyata tidak cocok dengan selera saya. Dalam Kata Pengantar (yang bagi saya merupakan “appetizer” yang memuaskan, tapi ternyata tidak diikuti dengan hidangan utama yang sama memuaskannya), Maggie Tiojakin menguraikan alasan memilih keempat belas cerpen tersebut untuk dikumpulkan dalam Fiksi Lotus Vol. 1, yaitu karena ia ingin mengangkat karya-karya cerpenis yang mungkin kurang terkenal, namun merupakan milestone dalam perkembangan cerita pendek. Dan satu lagi, entah karena saya yang agak o’on atau kurang berjiwa sastra; saya tidak menemukan mata rantai yang menghubungkan keempat belas cerpen dalam buku ini. Cerpen Teka-teki tak ubahnya (atau memang) dongeng anak-anak; sementara Sang Ayah, Pemberian Sang Magi, dan Charles menceritakan hubungan dalam keluarga; beberapa cerpen lainnya bersetting pada masa perang; dan sisanya membawa tema yang acak.

Kesimpulan yang saya ambil adalah; buku ini cocok sekali bagi:
1. Para pecinta cerpen dan followers blog Fiksi Lotus
2. Mereka yang ingin mempelajari cerpen dari sumber-sumber klasik
Jika kamu termasuk salah satu dari dua diatas, maka rasanya buku ini akan cocok bagi kamu. Sedangkan saya, setelah membaca buku ini saya akan berpikir lagi sebelum membaca kumcer keroyokan apapun (baik klasik maupun modern, dan bukannya saya tidak punya kumcer keroyokan di dalam timbunan).

Detail buku:
“Fiksi Lotus Vol. 1: Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia”, diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin
184 halaman, diterbitkan April 2012 (Cetakan I) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥


 

Conclusion:

Fiksi Lotus Vol. 1 is an anthology of classic short stories from various authors including Kafka, Hemingway and Maugham, translated into Indonesian language. It all started with a blog “Fiksi Lotus”, a collection of classic short stories translated into Indonesian language by Maggie Tiojakin. Maggie also translated some short stories by Edgar Allan Poe and it was published under the title “Kisah-kisah Tengah Malam”. However, from the 14 short stories in this anthology, there are only 4 that I really like; “The Father” by Bjornstjerne Bjornson, “The Gift of the Magi” by O. Henry, “The Interlopers” by Saki, and “Evil Adored” by Naguib Mahfouz. Overall, this book would really suit the need of those who want to study short stories from the classic sources, in Indonesian language. Two out of five stars for this book.

4th review for The Classics Club Project

Petualangan Sherlock Holmes – Sir Arthur Conan Doyle, Part II & Conclusion

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua. 🙂

7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)

Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.

8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)

Inilah  cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!

9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)

Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…

10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)

Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.

 11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)

Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…

12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)

Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.


Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.

Detail buku:

Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan 1891-1892)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Conclusion:

I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.

5th review for The Classics Club Project, 1st review for  The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway

Petualangan Sherlock Holmes – Sir Arthur Conan Doyle, Part I

Untuk pertama kalinya, review satu buku saya jadikan dua bagian. Karena kebetulan buku ini adalah kumpulan cerpen, maka tidak ada salahnya bila saya membahas satu per satu cerpen yang ada di dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini. Enam cerpen pertama dari kedua belas cerpen yang ada dalam Petualangan Sherlock Holmes inilah yang akan saya bahas dalam review bagian pertama ini.

 1. Skandal di Bohemia (judul asli: A Scandal in Bohemia)

Cerpen Sherlock Holmes pertama yang pernah diterbitkan ini membuka perkenalan pertama saya dengan Sherlock Holmes dengan cukup mulus. Melalui kacamata Watson, saya tidak hanya jadi tahu tentang reputasi dan kebiasaan-kebiasaan Holmes, tetapi juga sosok wanita yang dikaguminya. Cukup pribadi untuk perkenalan pertama, bukan? Ya, sosok wanita istimewa itu adalah Irene Adler, mantan penyanyi opera, petualang asmara, dan seorang wanita yang luar biasa cantik. Ms. Adler terlibat hubungan rahasia dengan Raja Bohemia, dan sang raja yang akan menikah, menghendaki agar bukti-bukti hubungan gelapnya dengan wanita itu direnggut dari tangan Irene. Sang raja meminta bantuan detektif kita untuk menjalankan rencana ini dan… peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa di mana Sherlock Holmes dikelabui oleh seorang wanita.

 2. Kasus Identitas (judul asli: A Case of Identity)

Suatu malam, apartemen Holmes di Baker Street kedatangan seorang wanita muda yang bingung, bernama Mary Sutherland. Miss Mary mengaku bahwa tunangannya, Mr. Hosmer Angel telah menghilang tepat di hari pernikahannya dengan Mary. Adapun Mary adalah seorang wanita muda yang berpenghasilan cukup, dan ayah tirinya (yang hanya lebih tua 5 tahun dari dirinya) menentang keras hubungannya dengan Mr. Angel, sehingga pernikahan diantara Mary dan Mr. Angel harus dilaksanakan secara diam-diam. Lalu sekarang ketika sang tunangan misterius itu menghilang, apa yang harus dilakukan Mary? Sherlock Holmes membongkar misteri ini dengan cukup mudah, tanpa “merenggut angan-angan indah dari seorang gadis”; sebagaimana yang dikutipnya dari seorang penyair Persia bernama Hafiz.

 3. Perkumpulan Orang Berambut Merah (judul asli: The Adventure of the Red-Headed League)

I wonder why Ron Weasley wasn’t in this story! Hahaha. Setiap kali membaca tentang orang berambut merah menyala, mau tak mau saya teringat akan Ron Weasley. Kebetulan pengarang yang menciptakan karakter Ron dan pengarang yang menulis cerpen ini berasal dari negara yang sama. Tokoh utama berambut merah dalam cerpen ini adalah Mr. Jabez Wilson, seorang pedagang paruh baya dengan penghasilan pas-pasan yang memiliki tempat usaha di salah satu sudut kumuh kota London. Suatu hari, ia mendengar tentang lowongan yang dipasang “Perkumpulan Orang Berambut Merah” yang mencari pegawai untuk melakukan pekerjaan ringan, namun dengan gaji yang cukup besar. Asisten Mr. Wilson, Vincent Spaulding, mendorong Mr. Wilson untuk melamar pekerjaan itu, dan benar saja, dengan sangat mudah ia diterima. Ia melakukan pekerjaan untuk Perkumpulan Orang Berambut Merah untuk beberapa minggu, dengan menyalin Encyclopedia Britannica. Betapa kagetnya ia ketika suatu hari perkumpulan itu dikabarkan bubar begitu saja. Memang, Mr. Wilson tidak rugi apa-apa, karena toh ia sudah mendapatkan penghasilan tambahan untuk beberapa minggu, dan tambahan pengetahuan dari hasil menyalin ensiklopedi, namun ia tidak rela pekerjaan bagus ini hilang begitu saja, dan Sherlock Holmes pun tertarik akan kasus yang aneh ini. Benar saja, memang ada “udang di balik batu” dari perkumpulan aneh ini, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mr. Wilson, atau orang-orang lain.

 4. Misteri di Boscombe Valley (judul asli: The Boscombe Valley Mystery)

Seorang petani yang tinggal di daerah pedesaan di Herefordshire terbunuh dengan tangan dingin, dan tersangka utama pembunuhan ini adalah putranya sendiri. Bagaimana mungkin? Sementara semua bukti dan kesaksian menunjuk kepada si pemuda, James McCarthy muda, dan vonis hampir pasti menyatakan bahwa ia bersalah; sementara itu Sherlock Holmes kembali menyusuri tempat kejadian perkara dan menemukan fakta-fakta kecil yang bisa jadi menunjukkan bahwa bukan si pemuda pelakunya… Cerpen yang satu ini menarik karena di sini kita bisa melihat bagaimana Conan Doyle memutarbalikkan asumsi para tokoh yang beranggapan bahwa James McCarthy pasti bersalah, ternyata malah sama sekali keliru.

 5. Lima Butir Biji Jeruk (judul asli: The Five Orange Pips)

Cerpen favorit saya dari enam cerpen pertama dalam Petualangan Sherlock Holmes. Kasus yang ditangani Holmes yang satu ini benar-benar aneh dan misterius. Tiga pembunuhan yang terjadi semuanya ditandai dengan datangnya amplop berisi lima butir biji jeruk yang sudah kering, dan tulisan K.K.K. berwarna merah di bagian dalam amplop. Anehnya lagi, kematian ketiga orang tersebut tampak seperti bunuh diri atau kecelakaan, padahal sesungguhnya adalah pembunuhan. Cerpen ini memuat sejarah singkat tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang mempunyai reputasi dan agenda yang sadis dan mengerikan. Dan walaupun endingnya menggantung, cerpen yang satu ini cukup membuat saya penasaran dan tegang karena kisahnya, dan saya jadi ingin membaca lebih banyak tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang membuat jantung terasa dingin itu.

 6. Pria Berbibir Miring (judul asli: The Man With the Twisted Lip)

Ketika hendak menjemput Isa Whitney, suami dari teman istrinya, Dr. Watson terkaget-kaget ketika menjumpai teman baiknya, Sherlock Holmes sedang berada di dalam pondok candu yang sama dengan Mr. Whitney. Ternyata Holmes sedang menyelidiki kasus di mana seorang pria, Neville St. Clair, dilaporkan belum pulang ke rumah selama dua hari. Namun, istrinya sempat melihatnya di atas atap pondok candu, namun kemudian menghilang begitu saja seperti ditarik seseorang dari belakang. Mereka hanya menemukan sebagian pakaian Mr. St. Clair dari hasil pemeriksaan di lantai atas pondok candu itu, sementara jasnya baru ditemukan belakangan. Seorang pengemis bernama Hugh Boone tinggal di lantai atas pondok candu itu, ia mempunyai bekas luka mengerikan pada wajahnya yang menyebabkan pinggiran bibir atasnya tertarik ke atas kalau wajahnya sedang bergerak-gerak. Bagaimana keterlibatan si pengemis dalam peristiwa hilangnya Mr. St. Clair? Lalu dimanakah pria itu sebenarnya?

***

Sejauh ini, kumcer Petualangan Sherlock Holmes layak diganjar tiga bintang. Beberapa cerpen memang agak datar dan membosankan, namun beberapa lainnya berhasil memukau saya dengan cara brilian Sherlock Holmes memecahkan kasus dan perhatiannya kepada detail-detail kecil yang dianggap orang tak penting. Seandainya saya bertemu dengan Sherlock Holmes saat review ini terbit, ia pasti akan memperhatikan lingkaran hitam dibawah kedua mata saya yang menunjukkan bahwa saya sering tidur larut malam dan jari telunjuk kanan saya yang kelihatan lebih berotot daripada jari-jari yang lain karena keseringan digunakan memencet-mencet mouse; tapi saya harus berhenti menulis sekarang.

Review ini diposting bersama-sama dengan beberapa BBI-ers dalam rangka merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153 (22 Mei 1859-22 Mei 2012)

Happy birthday, Sir Arthur Conan Doyle!

Dan sampai jumpa di bagian kedua review ini! 😉

Baca juga:
Mini biografi Sir Arthur Conan Doyle
Event Baca Klasik Mei 2012: Sherlock Quest
Sherlock Classics Quest Game
Petualangan Sherlock Holmes, Review Part II & Conclusion