Home » Book Reviews » 5 star review » Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale) – Diane Setterfield

Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale) – Diane Setterfield

Semua orang memiliki cerita. Karena cerita seperti keluarga. Kau mungkin tidak mengenal siapa mereka, atau telah kehilangan mereka, tetapi mereka tetap ada.
Kau tak bisa berkata kau tidak memiliki mereka.

Vida Winter adalah seorang penenun cerita. Semasa hidupnya ia telah melahirkan 56 buku yang semuanya laris bak kacang goreng. Cerita-cerita. Dongeng-dongeng.
Namun tak satupun cerita yang ditenunnya memberitahu pembaca kebenaran mengenai jati dirinya sendiri. Kepada para wartawan yang penasaran ia memberikan 19 versi yang berbeda-beda mengenai jati dirinya.

Siapa Vida Winter sesungguhnya tetap tertutup rapat… hingga beberapa waktu menjelang akhir hidupnya. Ingatan tentang kejadian 40 tahun silam kembali menghantuinya. Seorang pemuda, tampak seperti wartawan tak berpengalaman. Dengan raut wajah penuh tekad pemuda itu berkata,
“Ceritakan padaku yang sesungguhnya.”

Empat puluh tahun sesudah kejadian itu, Miss Winter telah siap menguntai jalinan kisah yang sesungguhnya. Ia memilih Margaret Lea, seorang penulis biografi amatir dan anak pemilik toko buku antik, untuk menuliskan biografinya. Margaret, yang tidak tertarik pada literatur kontemporer, awalnya enggan terlibat, namun setelah menemukan edisi langka salah satu buku Miss Winter dalam toko buku antik ayahnya, ia menjadi penasaran. Buku yang ada di toko ayahnya itu berjudul Tiga Belas Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, namun tidak ada dongeng ketiga belas. Edisi-edisi buku itu yang beredar selanjutnya hanya memuat judul Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, tanpa embel-embel Tiga Belas. Misteri Dongeng Ketiga Belas ini sama terkenalnya dengan pengarangnya sendiri.

Maka mereka pun bertemu, dan Miss Winter mulai menceritakan kisahnya. Kisah yang ia tuturkan adalah mengenai rumah Angelfield; kakeknya, George Angelfield; ibu dan pamannya, Isabelle dan Charlie Angelfield; dan terutama, mengenai dua anak kembar yang berlawanan sifat, Adeline dan Emmeline. Dan ia juga menceritakan tentang hantu yang ada di tengah-tengah keluarga Angelfield, orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan mereka, peristiwa-peristiwa yang aneh, menyedihkan, dan mengerikan yang mereka alami. Dan di penghujung cerita, akhirnya, teka-teki Dongeng Ketiga Belas pun dibukakan oleh Miss Winter.

Menyatukan kepingan-kepingan cerita yang satu persatu dituturkan Miss Winter, dengan tabir-tabir misteri yang disibakkan tentang Adeline dan Emmeline yang berperilaku ganjil; Margaret pun larut di dalamnya. Kehidupan pribadinya perlahan meredup dari dirinya dan ia tenggelam dalam cerita Miss Winter. Namun, pada waktunya, Margaret pun harus menghadapi hantunya sendiri; kesedihan yang terasa menekan di sisi tubuhnya.

***

“Tahukah kau perasaan yang muncul saat kau mulai membaca buku baru sebelum pelapis buku terakhir sempat menutup? Kau meninggalkan ide dan tema buku sebelumnya – bahkan karakter-karakternya – terperangkap di serat-serat pakaianmu, dan ketika kau membuka buku baru, semua ide, tema, dan karakter buku sebelumnya masih melekat bersamamu.”

Hanya sedikit buku yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dan Dongeng Ketiga Belas (judul asli: The Thirteenth Tale) ini adalah salah satunya.
Buku yang banyak menyebut karya-karya sastra klasik (yang menjadi favorit karakter Margaret Lea) ini adalah karya debut penulis asal Inggris, Diane Setterfield. The Thirteenth Tale meraih kesuksesan dengan meraih predikat New York Times #1 bestseller pada 8 Oktober 2006.
Cerita yang ditulis dengan gaya Gothic ini dihimpun penulis secara rapat tanpa celah, kental dengan aura yang misterius dan penuh teka-teki, namun disampaikan dengan begitu alami, tanpa terkesan mengada-ada atau melebih-lebihkan.

Jane Wood, editor-in-chief Orion, penerbit Inggris untuk The Thirteenth Tale, mengatakan bahwa, “The book marks “a return to that rich mine of storytelling that our parents loved and we loved as children. It also satisfies the appetite for narrative-driven fiction that has beginnings, middles and endings, like the great novels of the 19th century. She creates a wonderful fictional world.”

Gaya penulisan Diane Setterfield yang membius juga membuat saya berpendapat bahwa saya tidak akan bisa menikmati The Thirteenth Tale ini selain dalam bentuk buku. Terjemahannya juga digarap dengan sangat, sangat bagus. Tentu saja review saya yang singkat ini takkan mampu merangkum isi buku yang penuh subtansi ini, anda harus mencicipinya sendiri untuk mengetahui apa yang begitu istimewa dengan buku ini.

Buku yang saya dapatkan sebagai hadiah menang lomba mendongeng Vixxio Buku Gratis di FB (Thanks to Mbak Fanda Vixxio ;-)) ini sebelumnya sudah sering saya lihat di toko buku sih, tapi entah kenapa saya nggak pernah tertarik, mungkin karena covernya yang suram ya? Tapi saya jelas lebih menyukai cover edisi terjemahannya, jika dibandingkan dengan cover edisi aslinya.

Cover edisi internasional The Thirteenth Tale

Karakter Margaret Lea membuat saya tercengang, karena si Margaret ini seorang kutu buku yang amat parah, dan ia hanya tertarik kepada literatur-literatur tua, karya-karya orang yang sudah mati. Begitu cintanya terhadap buku, si Margaret sampai bisa membaca tanpa ingat lagi kepada makanan, hari dan waktu. Bahkan, dia terang-terangan mengakui bahwa ia lebih mencintai buku daripada manusia!
Agak kaget juga ketika mendapati Jane Eyre paling banyak disebut-sebut dalam buku ini – karena saya baru saja menyelesaikan Jane Eyre akhir Februari kemarin dan buku tersebut langsung saja menghuni shelf favorites saya 🙂 . Dua hal ini – Margaret Lea dan Jane Eyre, membuat saya berkata dalam hati, “buku ini memang buat gue!” Hehehe.
Sesudah membaca buku ini saya merenung sejenak mengapa saya begitu menyukai buku-buku klasik, dan jawabannya saya tuangkan dalam tulisan singkat berikut:

“Sebagian buku di dunia ini adalah mesin waktu. Dalam kasusku, buku-buku favoritku seringkali membawaku mundur dua abad dari zaman sekarang. Abad dua puluh satu yang gemerlap, hiruk-pikuk, dan modern, untuk beberapa saat hilang, digantikan dengan abad sembilan belas.
Kehidupan yang sudah mati, lama, dan usang. Namun pernah ada kehidupan seperti itu sebelum saat ini. Itulah yang terpenting.
Lembar-lembar literatur yang ditulis orang-orang dari abad yang telah berlalu adalah harta karun. Tak penting apakah lembar-lembar itu berisi dongeng, sejarah, atau penelitian; seseorang di masa lalu telah menulisnya.”

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Thirteenth_Tale_%28novel%29
http://www.bookbrowse.com/biographies/index.cfm?author_number=1376

Detail buku:
“Dongeng Ketiga Belas” (judul asli: The Thirteenth Tale), oleh Diane Setterfield
608 halaman, diterbitkan November 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

15 thoughts on “Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale) – Diane Setterfield

  1. Eh udah mateng nih godog-annya, hehehe…
    Memang, salah 1 ciri buku yg menggugah: sulit diceritakan sensasinya! Berarti bukan aku aja nih yang merasa reviewku gak bisa mencerminkan 100% bukunya..

  2. waah saya beberapa minggu lalu baru mencomot buku ini dari obralan gramed. ternyata impulsif gegara covernya tidak salah. saya jadi penasaran pengen tahu isinya. awalnya saya kira ini beneran berisi dongeng2 khas disney. eh ternyata ada misteri2annya juga :3

  3. Sama seperti Mbak Mel dulu sering lihat buku ini di tokobuku terpampang sangat menggoda dengan background hitamnya. Niat beli tapi diundur terus akhirnya lupa 😀 Untung dapat diobral vixxio XD

    Sempat teronggok beberapa minggu nih buku. Biasanya baca awal buku itu bikin bosen tapi buku ini enggak, dari awal sudah langsung menyedot jiwaku. Waktu pertengahan, jadi “wow, sialan”. Waktu akhir-akhir sudah speechless. Gaya ceritanya benar2 sangat sangat bagus, duh jadi pingin baca ulang.
    Aku benar2 setuju sekali dengan ini “Hanya sedikit buku yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dan Dongeng Ketiga Belas (judul asli: The Thirteenth Tale) ini adalah salah satunya.”
    banyak buku bagus yang sudah kubaca, tapi yang meninggalkan kesan sangat mendalam hanya beberapa dan buku ini salah satunya.

  4. Menarik banget novel ini. Yang pertama menarik perhatianku adalah covernya yang keren dan sedikit gothic ntu. Aku suka covernya. Selanjutnya, aku jadi teringat dengan Kisah-kisah Tengah Malam (terbitan GPU), kumpulan fiksi yang penuh teror dan misteri yang ditulis oleh Edgar Allan Poe. Jelas, beda, sih, dengan novel ini, karena yg ini merupakan novel (berisi satu cerita). Nggak tahu kenapa pikiranku jadi ke situ. Mungkin karena kesan gothic campur misteri yang kutangkap habis baca review ini kali, ya, hehe. Oke, masuk wishlist!

    • Iya, buku ini memang temanya misteri-gothic, dan penulisannya keren banget. Tapi agak beda sama Edgar Allan Poe sih, buku ini nggak sampe bikin ketakutan gitu 😀

  5. Hm, jadi bagus ya? Saya juga dulunya sering liat buku ini di toko buku, cuma ga pernah dilirik. Pas akhirnya kemarin saya beli The Book of Lost Things, saya pengen nyari buku yang segenre juga (yang suram gitu). Eh taunya direkomendasiin ini. Nyesel waktu itu ga beli padahal ada obral T.T

    Dan eh, kalo dibandingin emang cakep kover terjemahannya dibanding kover aslinya hehehe

  6. Wew… Kecintaan pada bukunya lebih parah daripada aku ._. *kalau aku cuma ngejadiin itu candu doang, sih…* Pengangkatan kisah yang nggak jauh-jauh dari dunia kepenulisan, itu yang paling pertama ku-notice. Padahal lihat judulnya tadi kukira ini bakalan semacam kumpulan dongeng :3 *salah*

    Hoo, cerita pengupasan mendalam mengenai seorang karakter dan masa lalunya seperti ini pasti keren. Berharap saja bisa membaca di waktu dekat 😥

  7. Lembar-lembar literatur yang ditulis orang-orang dari abad yang telah berlalu adalah harta karun. Tak penting apakah lembar-lembar itu berisi dongeng, sejarah, atau penelitian; seseorang di masa lalu telah menulisnya.”

    suka banget sama quote tentang buku ini.
    akhir-akhir ini saya banyak mupeng sama buku yang terjemahannya bagus serta temanya menarik bagi saya, dan saya sangat jatuh hati sama review buku ini hhhee

  8. aku juga suka banget sama buku ini. pertama beli karena covernya, dan akhirnya jatuh cinta pake banget. habis itu beli the book of lost things karena covernya mirip mirip. bagus, tapi tetep lebih suka the thirteenth tale.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s