Selamat Ulang Tahun ke-3, BBI! + Pengumuman Pemenang Giveaway Hop

bbi_ultah3

Selamat Ulang Tahun yang ke-3, BBI!

Sebagai sebuah komunitas, di umur yang ketiga ini BBI sudah banyak berkembang, baik dari jumlah membernya yang bertambah banyak, dan berbagai event baik online dan offline yang diikuti/diadakan. Melalui BBI, saya jadi punya banyak teman baru, jadi tahu banyak buku bagus yang direkomendasikan teman-teman, dan tentunya semangat untuk membaca dan blogging terus terpompa meski di tengah-tengah kesibukan.

Thank you, Bebi, for these awesome 3 years. Looking forward for our next adventures!

Dan, inilah yang pasti udah ditunggu oleh teman-teman semua. Yak, pemenang Giveaway Hop BBI 2014 di blog ini! Sebelum saya mengumumkan pemenangnya, berikut sekilas stats ya.

Jumlah entri yang masuk di Form Google Docs sejumlah 113 entri, dari jumlah ini ada 2 yang saya hapus karena double entries, dan 2 lagi dengan terpaksa harus saya diskualifikasi karena tidak memenuhi syarat utama untuk mengikuti giveaway, yaitu meninggalkan komentar di salah satu post REVIEW di blog ini.

Peserta giveaway meninggalkan komentar di lebih dari 45 post review, sementara review yang mendapat paling banyak komentar adalah review Pulang oleh Leila S. Chudori (18 komentar).

Nah, siapakah yang beruntung di Giveaway Hop BBI di blog Surgabukuku kali ini? Nih dia….

Mita Oktavia
komen di review Lust for Life, oleh Irving Stone

 

Selamat! Saya akan menghubungi kamu secara langsung via e-mail, dan wajib dibalas paling lambat hari Rabu, 16 April 2014 pukul 20.00 WIB, kalau tidak maka hadiah akan dialihkan ke pemenang cadangan yang sudah saya pilih.

Untuk semua yang sudah berpartisipasi dalam giveaway hop kali ini, yang sudah mau repot-repot browsing review di blog ini dan meninggalkan komentar, terima kasih banyak ya! Dan yang mau ikutan giveaway di Twitter yang sudah saya janjikan, silakan pantengin akun Twitter @melmarian sekitar akhir bulan April.

Ciao for now!

Giveaway Hop BBI 2014

BBIANNIV_gahop

Hey ho!

Kita kembali lagi di BBI Anniversary Giveaway Hop. Itu berarti, BBI akan berulang tahun yang ke-3 tepat pada tanggal 13 April 2014 nanti. Yay! Selain ngerayain ultah Bebi, keikutsertaan saya di giveaway hop kali ini juga dalam rangka ultah saya sendiri yang jatuh pada tanggal 3 bulan 3 kemarin. #salamtigajari #uhuk

Satu orang pemenang akan mendapatkan hadiah sebagai berikut:

Paket buku senilai max IDR 100.000 / USD 9, untuk maksimal 2 (dua) buku.

Pilihan buku bebas asal masih ready stock di toko buku online/offline. Untuk buku impor, hanya bisa memilih dari Open Trolley, Periplus.com, Book Depository atau Better World Books ya. Ongkos kirim ke alamat pemenang akan saya tanggung.

Nah, langsung saja ke persyaratan giveaway. Don’t worry, kali ini persyaratannya saya bikin super easy.

  1.  [WAJIB] Dari seluruh post review yang ada di blog Surgabukuku, pilih 1 (satu) review yang bukunya ingin sekali kamu baca. Tinggalkan komentar di post review buku tersebut (bukan di post ini), yang menjelaskan mengapa kamu ingin sekali baca buku tersebut. Komentar harus relevan dengan isi review dan buku yang bersangkutan, jadi bukan sekadar “bukunya keren” atau “ih, covernya lucu” dan semacamnya. Komentar yang terbaik menurut saya akan keluar sebagai pemenang. Tips: kamu bisa browse semua post review di blog Surgabukuku di Page Index Reviews atau Tag Book Reviews.
  2. [TIDAK WAJIB] Follow Twitter @melmarian. Saya berencana mengadakan surprise giveaway nanti kalau followers di Twitter sudah melewati 1000. Siapa tahu nanti kamu yang beruntung!
  3. [TIDAK WAJIB] Tinggalkan komentar di post ini. Isi komentar bebas, mau ngucapin selamat ulang tahun buat Bebi boleh, mau share lagi ngincer buku apa boleh, mau kasih saran/kritik/uneg-uneg tentang blog ini juga boleh.
  4. [WAJIB] Isi form Google Docs di bawah ini.

Persyaratan umum:

  1. Peserta giveaway berdomisili di Indonesia.
  2. Satu entri untuk satu peserta. Jadi semua orang memiliki kesempatan menang yang sama. Kalau mau komen di lebih dari 1 post tidak dilarang, tapi untuk giveaway ini hanya 1 komentar per orang yang dihitung ya. :)
  3. Giveaway dibuka mulai tanggal 14 Maret 2014 sampai tanggal 11 April 2014 pk. 23.59 WIB.
  4. Pemenang giveaway akan diumumkan di blog ini bertepatan dengan HUT BBI, tanggal 13 April 2014 pukul 09.00 WIB. Saya akan menghubungi pemenang secara pribadi melalui alamat e-mail, dan yang bersangkutan wajib membalas dalam waktu 3×24 jam, kalau tidak akan dipilih pemenang yang lain.

That’s it and good luck! Jangan lupa mampir ke blog-blog lain yang ikut BBI Anniversary Giveaway Hop ini juga ya!

Lihat blog-blog yang ikut BBI Anniversary Giveaway Hop DI SINI.

Pulang – Leila S. Chudori

pulangLSCDalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

Belum banyak buku fiksi Indonesia yang saya baca, tapi mungkin Pulang adalah salah satu yang terbaik. Cerita mengalir begitu saja dan terasa nyata sehingga saya lupa kalau saya sedang membaca novel. Diksinya indah, blak-blakan di beberapa bagian, dan saya bisa sungguh-sungguh merasakan keberadaan dan emosi para karakter utama. Saya suka betapa novel ini begitu Indonesia (termasuk pemilihan nama-nama tokoh yang Indonesia banget), padahal banyak petikan percakapan dalam bahasa Prancis juga. Saya suka Dimas Suryo yang doyan melahap literatur klasik, sesuatu yang juga ia tularkan pada putri tunggalnya. Satu-satunya yang membuat novel ini kurang lengkap, mungkin, adalah film dokumenter karya Lintang yang tidak disebut-sebut lagi pada akhir buku. Saya sangat ingin menonton film itu. Nah, saya sudah bilang tadi kan kalau saya lupa kalau Pulang hanya sebuah novel? Bagi yang ingin mencoba baca buku ini, jangan takut karena buku ini “kelihatan” berat, sebenarnya nggak seberat itu kok.

Rasanya sulit sekali untuk menunjukkan di dalam review, apa yang membuat buku ini begitu bagus di mata saya. Walaupun buku ini kental nuansa romance-nya, bagi saya itu tak menjadi masalah karena konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini. Yang jelas, novel ini membuat saya makin mencintai Indonesia. Novel ini membuat saya ingin menelusuri kembali sejarah Indonesia, walaupun mungkin apa yang saya baca tidak bisa mutlak dipercayai sebagai suatu kebenaran.

#postingbareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan Februari 2014 tema Historical Fiction Indonesia

Detail buku:

Pulang, oleh Leila S. Chudori
464 halaman, diterbitkan Desember 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (Penerbit KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Wishful Wednesday (23)

Happy 2nd Anniversary buat Wishful Wednesday! Yay, awet juga ya meme yang satu ini. Artinya, para pesertanya nggak pernah kehabisan ide buku-buku baru buat ditimbun, eh dibeli. Nah, karena saya juga belakangan ini jarang ikut WW (tepatnya ikut WW kalo ada giveawaynya, maapkeun), maka di WW edisi kali ini saya mau share 2 buku yang saya lagi mupeng banget pengen punya.

Saya menemukan buku yang pertama gara-gara review Harun Harahap buat buku ini. Judulnya lumayan panjang, The Terrible Thing That Happened to Barnaby Brocket, oleh John Boyne, pengarang yang nggak asing lagi karena sebelumnya ia menulis The Boy in Striped Pyjamas.

barnaby brocket

Berikut ini sinopsis bukunya (diambil dari Goodreads):

There’s nothing unusual about the Brockets. Normal, respectable and proud of it, they turn up their noses at anyone different. But from the moment Barnaby Brocket comes into the world, it’s clear he’s anything but ordinary. To his parents’ horror, Barnaby defies the laws of gravity – and floats.

Barnaby tries to keep both feet on the ground, but he just can’t do it. One fateful day, the Brockets decide enough is enough. They never asked for a weird, abnormal, floating child. Barnaby has to go . . .

Betrayed, frightened and alone, Barnaby floats into the path of a very special hot air balloon – and so begins a magical journey around the world, with a cast of extraordinary new friends.

Sounds interesting, isn’t it? Buku The Terrible Thing That Happened to Barnaby Brocket bisa dibeli di sini.

Lalu, buku yang kedua adalah House of Silk oleh Anthony Horowitz. Gara-garanya, ternyata saya nggak terlalu suka dengan lanjutan seri Sherlock Holmes karya Laurie R. King yang buku pertamanya berjudul The Beekeeper’s Apprentice. Nah, ternyata di review Beekeeper-nya, Mbak Astrid merekomendasikan buku House of Silk ini, akhirnya sukses bikin saya penasaran. Rating di Goodreads pun tinggi, dan beberapa teman di Goodreads pun memberi review yang bagus buat buku ini. Hebatnya lagi, buku ini diakui oleh ahli waris Sir Arthur Conan Doyle. Makin penasaran, deh…

house of silk

Ini sinopsisnya (diambil dari Goodreads):

Pertama kali dalam sejarah, setelah 125 tahun, ahli waris Sir Arthur Conan Doyle akhirnya mengakui satu-satunya novel seri baru Sherlock Holmes.
Maka, sekali lagi, petualangan dimulai …

London, 1890. Baker Street 221B.
Seorang penjual benda-benda seni, Edmund Carstairs mengunjungi Sherlock Holmes dan Dr. John Watson untuk meminta bantuan. Dia telah diancam oleh seorang buronan yang sepertinya sudah mulai mengikutinya sejak dia pulang dari Amerika. Beberapa hari berikutnya, rumahnya dirampok dan keluarganya menerima surat ancaman. Setelah perampokan itu, sebuah pembunuhan terjadi.
Holmes dan Watson pun akhirnya tanpa sengaja masuk ke dalam dunia bawah tanah Boston. Dan semakin jauh mereka kasusnya, mereka menemukan misteri Rumah Sutra yang menghubungkan pemerintah dengan criminal tingkat tinggi. Sebuah kasus yang mungkin berakibat pecahnya sosial London.

House of Silk (versi terjemahan) bisa dibeli di sini.

Yap, itu dia 2 buku yang lagi saya pengenin banget saat ini. Kamu juga bisa ikut giveaway dalam rangka ultah WW yang ke-2 ini lho. Simak syarat dan ketentuannya di sini.

***

Wishful Wednesday adalah blog hop yang dihost oleh blog Books to Share. Berikut ini ketentuannya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Lust for Life – Irving Stone

lust-for-LIFE---smallSeberapa jauh engkau akan berlari demi mengejar panggilan hidup? Vincent Van Gogh (1853-1890) melalui proses yang panjang sebelum menyadari panggilan hidupnya yang sesungguhnya, dan berusaha sampai titik darah penghabisan demi panggilan hidupnya itu, yakni menjadi seorang pelukis. Sebelum sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk melukis, Van Gogh muda sempat menjadi seorang pramuniaga di galeri lukisan Goupil, yang dipimpin oleh pamannya. Namun bukannya menjadi pramuniaga yang baik yang mampu membujuk orang untuk membeli lukisan, Vincent malah dengan terang-terangan menyebut lukisan-lukisan tersebut jelek dan orang-orang yang membelinya sangat bodoh. Kegagalan menjadi seorang pramuniaga lukisan membawa Vincent kepada jalan hidup yang berikutnya, yaitu menjadi seorang pelayan Tuhan mengikuti jejak ayahnya. Vincent kemudian berkutat mempelajari bahasa Latin, bahasa Yunani, aljabar, dan tata bahasa dari seorang pria bernama Mendes da Costa. Beruntung bagi Vincent, Mijnheer da Costa merupakan seorang guru yang sangat bijaksana yang mampu menginspirasi muridnya sekaligus memberikan kebebasan bagi muridnya untuk memilih apa yang hendak ia lakukan.

“Apa pun yang ingin kaulakukan, kau akan melakukannya dengan baik. Aku dapat merasakan kualitas dalam dirimu yang akan mengantarkanmu menjadi seorang pria, dan aku tahu itu sesuatu yang baik. Sering dalam hidupmu kau mungkin merasa dirimu gagal, tapi pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu.” – hal. 53

Kata-kata Mendes membuka mata Vincent yang jengah terhadap pendidikan formal yang harus ditempuhnya sebagai pendeta, dan dengan begitu saja pergi kepada Komite Evangelis Belgia yang kemudian menugaskannya ke sebuah desa pertambangan bernama Borinage. Tempat itu dinamakan “desa hitam”, suatu tempat yang suram dan menyedihkan. Vincent mendapati bahwa yang dibutuhkan oleh para penambang yang kotor dan miskin di Borinage lebih daripada firman Tuhan adalah makanan dan pakaian yang layak, serta tempat tinggal yang hangat. Vincent akhirnya memberikan segala miliknya untuk penduduk Borinage, meski kemudian ia sendiri yang harus kelaparan, sakit dan kedinginan.

Menjelang akhir masa tinggalnya di Borinage, Vincent kembali menekuni aktivitas menggambar dan berkat dorongan dari adik terkasihnya, Theo, kali ini Vincent merasa sungguh-sungguh menemukan jati dirinya sebagai pelukis.

“Oh, Theo, selama berbulan-bulan aku berjuang untuk meraih sesuatu, mencoba untuk menggali semua tujuan yang nyata dan arti dari hidupku, dan aku tidak tahu ini! Tapi sekarang ketika aku benar-benar tahu, aku tidak akan patah semangat lagi. Theo, apakah kau sadar apa artinya ini? Setelah waktu bertahun-tahun yang terbuang AKHIRNYA AKU MENEMUKAN JATI DIRIKU! Aku akan menjadi pelukis. Aku pasti akan menjadi pelukis. Aku yakin itu. Karena itulah aku gagal dalam semua pekerjaan lain, karena itu bukan jalanku.” – hal. 136

Perjalanan panjang kembali dilalui Vincent untuk membuktikan jati dirinya sebagai pelukis. Di Den Haag ia berguru pada Thomas Mauve yang adalah sepupunya sendiri, sementara berbagai pihak mengkritisi lukisannya terlalu kasar dan mentah. Di Paris kemudian Vincent memutuskan untuk mengubah gaya lukisannya menurut aliran impresionis yang memakai warna yang serba cerah dan goresan yang tajam. Semua ini dilaluinya dengan sokongan dana dari Theo. Pindah ke Arles yang panas menyengat, Vincent pun melukis, melukis, dan melukis, sampai-sampai ia menjadi seperti mesin lukis otomatis yang tidak dapat berhenti bekerja.

“Namun, satu-satunya waktu saat dia merasa hidup adalah ketika dia sedang bekerja keras dengan karyanya. Untuk kehidupan pribadi, dia tidak memilikinya. Dia hanyalah mesin lukis otomatis, buta dengan makanan, cairan, dan cat yang dituangkan setiap pagi, lalu pada malam harinya sebuah kanvas telah selesai dikerjakan. […] Dia berkarya karena baginya itu kewajiban, karena berkarya menghindarkannya dari sakit mental, karena berkarya bisa mengalihkan pikirannya. Dia dapat hidup tanpa istri, rumah, dan anak-anak; dia bisa hidup tanpa cinta, persahabatan, dan kesehatan; dia bisa hidup tanpa keamanan, kenyamanan, dan makanan; dia bahkan bisa hidup tanpa Tuhan. Namun dia tidak bisa hidup tanpa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yang merupakan hidupnya—kekuatan dan kemampuan untuk mencipta.” – hal. 442

Di Arles-lah panggilan hidup Vincent sebagai seorang pelukis mulai menjadi pedang bermata dua. Mungkin ia telah mewujudkan apa yang Mendes da Costa pernah katakan, “pada akhirnya kau akan mengekspresikan dirimu dan ekspresi itu akan membenarkan kehidupanmu”, tapi di sisi lain ia telah bekerja melampaui batas sehingga pelan-pelan kewarasannya terkikis. Saat ia mendekam di rumah sakit jiwa di St. Remy-lah, untuk pertama kalinya Vincent mendengar kabar baik dari Theo: lukisannya yang diberi judul Ladang Anggur yang Merah (The Red Vineyard) terjual dengan harga empat ratus franc. Simak beberapa karya Van Gogh melalui video di bawah ini.

Vincent Van Gogh telah melalui segala pengalaman pahit yang bisa dirasakan oleh seorang manusia: diremehkan, direndahkan, tidak dimengerti, tidak dihargai, dianggap gila, tidak beruntung dalam cinta, tenggelam dalam keputusasaan… namun ia toh tetap bekerja sampai batas kemampuannya demi mengekspresikan dirinya sebagai seorang pelukis. Dan apakah ia sempat menikmati kesuksesannya? Tidak! Betapa ironis, karya-karya seorang pelukis termahal di dunia baru dihargai dengan selayaknya ketika ia sudah meninggal dunia.

Membaca kisah hidup Vincent Van Gogh dalam buku setebal 576 halaman ini, saya jadi semakin memahami bahwa hard work really pays off. Kerja keras pasti membuahkan hasil. Dari seorang Vincent Van Gogh saya belajar tentang keyakinan pada diri sendiri bahwa “jika saya merasa bisa melakukannya, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegah saya melakukannya”, juga kegigihan dalam bekerja, dan saya memahami bahwa ada waktunya bagi kita untuk berhenti bekerja, kalau kita tidak mau menjadi seperti Vincent yang akhirnya “dikonsumsi” oleh pekerjaannya sendiri dan akhirnya kehilangan segala-galanya. Dari adik Vincent, Theo Van Gogh, saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Theo sangat mengasihi kakaknya sehingga ia rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menyokong kakaknya, dan bukan hanya itu, Theo tidak menjauhi kakaknya ketika ia mulai sakit mental dan selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara bagi Vincent. Bagi kisah luar biasa yang mengubah cara pandang saya mengenai panggilan hidup dan kasih sayang terhadap sesama ini, saya menghadiahkan lima bintang.

N.B.: buku ini saya baca pada tahun 2013 dan masuk dalam 3 kategori Book Kaleidoscope 2013:

Baca juga: meme Scene on Three yang menggunakan salah satu adegan dalam buku ini.

***

Detail buku:

Lust for Life, oleh Irving Stone. Penerjemah: Rahmani Astuti, Copy-editor: Anton Kurnia
576 halaman, diterbitkan 2012 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.

Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

My Personal Rereading Project

I’ve read most of the books below for the first time in Indonesian translation, and I want to reread them (in English) because of these reasons:

  • some of them are my all-time favorite books;
  • I want to “taste” some others in their original language; and
  • I simply want to give the book a second chance, since I didn’t get what the book was talking about when I read it for the first time.

I’m not setting a deadline for myself for rereading all these books, it could take 10 years or maybe even more. And there is also a huge possibility that this list could expand. But for now, here are the books I want to reread. Can you guess which ones are my favorites and which ones are the books I want to give a second chance? ;)

  1. Les Miserables by Victor Hugo
  2. Jane Eyre by Charlotte Bronte
  3. To Kill a Mockingbird by Harper Lee
  4. The Secret Garden by Frances Hodgson Burnett
  5. A Tale of Two Cities by Charles Dickens
  6. The Hobbit by J.R.R. Tolkien
  7. Pride and Prejudice by Jane Austen
  8. Things Fall Apart by Chinua Achebe
  9. Gulliver’s Travels by Jonathan Swift
  10. The Thirteenth Tale by Diane Setterfield

Buying Monday #3, Februari 2014

buying_monday_3_1_

Hai, akhirnya kita ketemu lagi di Buying Monday! Di post BM kali ini saya mau merekap buku-buku hasil belanja, hasil menang giveaway dan buku-buku pinjaman selama bulan November 2013 sampai Januari 2014.

Yuk langsung aja ~

BM 5

Dua buku di atas ini hasil nitip ke Bzee. The Poisonwood Bible – Barbara Kingsolver second tapi masih mulus banget (!) harganya cuma IDR 50.000, dan Sejarah Aib – Jorge Luis Borges cuma IDR 10.000.

BM 6

Beli di obralan Toko Gunung Agung di mall sebelah, Black Beauty – Anna Sewell dan Snow Flower and the Secret Fan – Lisa See. Biasanya saya nggak terlalu suka sastra Asia, tapi cover buku ini berhasil mencuri perhatian saya. Dan kalo baca review-reviewnya di Goodreads kayaknya sih buku ini bagus. Let’s hope so. :) Saya cuma ngeluarin duit sebesar IDR 35.000 untuk dua buku ini.

BM 1

Ternyata saya pun nggak luput dari obralan @vixxio, hahaha. Jadinya menjelang akhir tahun saya borong buku-buku diatas ini. Per buku harganya cuma IDR 10.000 – 15.000 aja.

  1. Kalender Kata-Kata Bijak – Leo Tolstoy
  2. Madame Bovary – Gustave Flaubert
  3. Mr. Quin yang Misterius – Agatha Christie
  4. Murder in Mesopotamia – Agatha Christie
  5. The Mystery of the Blue Train – Agatha Christie

BM 2

Nah, mari beralih ke buku-buku pinjaman. Kalo pepatah bilang sambil menyelam minum air, maka sambil borong buku di @vixxio saya juga pinjam tiga buku dari Mbak Fanda: Iliad dan Odyssey-nya Homer, dan The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King yang baru separo jalan saya baca (padahal eventnya cuma selama bulan Januari, hiks.) The Enchanted Castle – E. Nesbit diperoleh dari swap dengan Mbak Fanda.

BM SS

Berikutnya adalah kado dari Secret Santa! Buku Generasi 90an – Marchella FP sudah saya tulis reviewnya di sini dan sekalian membongkar identitas Santa. :)

BM 4

Thank God, di pergantian tahun kemarin saya beruntung bisa menang di beberapa giveaway. Salah satunya GA internasional yang hadiahnya lumayan gede, yaitu buku-buku di The Bookdepository senilai <USD 25. Ini GA dengan nilai paling besar yang pernah saya menangkan, dan akhirnya saya manfaatkan buat minta dua buku di atas: War and Peace – Leo Tolstoy (satu lagi buku monster/buku sexy di antara timbunan) dan The Bible’s Greatest Stories – Paul Roche.

BM 7

Loh, bukannya di atas udah ada Black Beauty ya? Yah, karena saya sudah baca Black Beauty versi Orange Books yang covernya hitam dan merasa nggak sreg dengan terjemahannya, walaupun ceritanya bagi saya bagus banget, maka ketika menang di salah satu GA yang diadakan Ren dalam rangka What’s in A Name Reading Challenge 2013, maka saya minta buku ini, Black Beauty – Anna Sewell versi Gagas Media. Mari berharap terjemahannya bagus, kalo dari segi tampilan sih Beauty yang ini lebih cantik. ;)

BM nonfiksi

Yang terakhir, ada juga beberapa buku nonfiksi yang jadi pendatang baru di timbunan buku saya. Bible from A to Z – Carol Smith beli di Toko Buku Immanuel seharga IDR 44.000. Weird – Craig Groeschel hasil menang giveaway, buku ini direkomendasikan oleh salah seorang teman saya dan udah lama bikin penasaran, tapi gak kebeli-beli juga. Yang terakhir Bahasa Rusia Sehari-hari – Nanang S. Fadilah seharga IDR 60.000 (plus CD) baru saya beli kemarin, 3 Februari 2014, tapi tak apalah ya kalo saya masukkan juga. :)

Stats BM selama November 2013 – awal Februari 2014:

Dibeli : 11 buku

Hadiah & hasil menang giveaway : 5 buku

Hasil swap : 1 buku

Pinjam : 3 buku

Total semuanya : 20 buku :)

Mau ikutan Buying Monday juga? Yuk tengok cara mengikutinya di blog Aul DI SINI.

Wrap-Up Post for Read Big! Challenge

readbig_button

Dari semua challenge yang saya ikuti tahun 2013 lalu, boleh dibilang challenge ini paling menantang. Karena cuma buku-buku yang punya halaman di atas 500 yang bisa diikutkan dalam challenge ini, dan bukunya harus buku fisik, nggak boleh ebook. Lumayan kan sambil menyelam minum air, sambil baca juga melatih kekuatan otot-otot lengan dan tangan. #heh. Dan juga, sang host udah mengatur “kelas-kelas yang dipertandingkan”. Coba kita lihat lagi kelas-kelas apa saja itu…

  1. Featherweight / Kelas Bulu: membaca 1 – 4 buku
  2. Middleweight / Kelas Menengah: membaca 5 – 8 buku
  3. Heavyweight / Kelas Berat: membaca > 8 buku

Lalu, saya termasuk kelas yang mana nih? Waktu awal ikut challenge ini sih saya berniat ikut kelas Heavyweight. Well, coba kita lihat buku-buku apa saja yang berhasil saya lahap untuk challenge ini.

  1. Great Expectations by Charles Dickens, 592 p [review]
  2. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban by J.K. Rowling, 544 p [review]
  3. Harry Potter and the Goblet of Fire by J.K. Rowling, 896 p [review]
  4. Harry Potter and the Order of the Phoenix by J.K. Rowling, 1200 p – Incredible Bulk! [review]
  5. Harry Potter and the Half-Blood Prince by J.K. Rowling, 816 p [review]
  6. Harry Potter and the Deathly Hallows by J.K. Rowling, 1008 p – Incredible Bulk! [review]
  7. The Yearling by Marjorie Kinnan Rawlings, 504 p
  8. Lust for Life by Irving Stone, 576 p

Dua buku yang terakhir belum saya tulis reviewnya sampai sekarang, huhuhu. Tapi bagaimanapun saya tetap masuk kelas Middleweight, kan? *wink-wink*Anyway, di timbunan saya masih banyak banget buku-buku bantal yang menunggu dilahap, so I guess the challenge will still go on for me.

Makasih buat Dessy @ Ngidam Buku udah ngehost challenge ini!

Generasi 90an – Marchella FP

Cover Generasi 90an.indd“Masa lalu jangan kita biarkan berlalu, mari kita ungkit-ungkit kembali.” - halaman 4 dari buku Generasi 90an

Sebelum banyak yang protes, saya mau bilang kalau yang layak diungkit-ungkit kembali cuma kenangan yang manis dan indah ya. Yang sedih-sedih mah, lupain aja. :D

Beruntung banget bagi para generasi 90an (mereka-mereka yang di tahun 90an masih duduk di bangku SD-SMP-SMA), ada seorang “temen seangkatan” yang mau repot-repot menyusun segala tetek bengek memori tahun 90an ke dalam satu buku, untuk satu kegiatan penting berjudul nostalgia.

Buku setebal 144 halaman full color ini mengupas macam-macam hiburan yang hits di tahun 90an, mulai dari tontonan di TV (“What We Watch”), musik (“What We Hear”), fashion (“What We Wear”), bacaan (“What We Read”), sampai segala macam permainan (“What We Play”). Nggak ketinggalan tradisi anak-anak generasi 90an, jajanan, becandaan, dan… yah, masih banyak lagi.

Saya nggak akan merinci masing-masing bab ini membahas tentang apa saja karena itu pasti mengganggu kenikmatan mereka-mereka yang ingin baca buku ini, saya cuma mau meng-capture beberapa poin yang ketika melihat mereka di buku ini, saya langsung ngomong ke diri sendiri: “ini nih aku banget!”

20140131_150827

Pengakuan: yang diatas ini merupakan lima “tersangka” yang selalu bikin saya malas pergi ke sekolah Minggu setiap Minggu pagi. (Yep. True story.) Pada waktu itu saya pengen banget jadi salah seorang ksatria sailor (ganti-ganti antara Sailor Mars dan Sailor Jupiter, karena Mars punya rambut panjang dan seksi sedangkan Jupiter tomboy, persis kayak saya waktu itu :P), dan menurut saya cowok-cowok Saint Seiya itu guanteng banget (yang bisa ngalahin cuma Mamoru Chiba alias Tuxedo Bertopeng, ini sebelum eranya para boyband lho.) Kalo Doraemon, nggak ada matinya sampai sekarang. Remi menarik karena pertama kalinya ada kartun 3 dimensi di TV, dan yang terakhir Dragon Ball, saya doyan juga meski banyak yang bilang itu bukan tontonan anak cewek.

Sebagian besar generasi 90an adalah juga Anak Nongkrong MTV, termasuk saya yang betah banget nongkrongin layar kaca setiap acara MTV Asia ditayangkan oleh Anteve. Hampir semua acara MTV saya tonton, mulai MTV Most Wanted, MTV Ampuh, MTV Asia Hitlist sampe MTV Cribs dan MTV Pimp My Ride. Kalo ada yang nggak saya tonton paling itu MTV Salam Dangdut, hahaha. Nah, kalo gambar yang dibawah ini termasuk senjata andalan penikmat musik di era 90an. Di balik halaman yang saya foto ini ada juga trik merekam lagu ke kaset kosong dari radio atau dari kaset lain. Jaman dulu saya sering banget ngerekam dengan metode ini. :D

20140131_150845

Ortu saya bolak balik menjadi korban putri remajanya yang masih labil masalah fashion. Ketika item X ngetrend, bagi saya PUNYA itu HARGA MATI. Termasuk barang aneh di bawah ini.

20140131_150912

Nggak paham ini benda apa? Namanya choker tattoo, kalung dari bahan kawat nilon yang nempel ketat di leher dan kalo dipake seakan-akan kayak punya tattoo melingkari leher. Dipake jadi gelang juga bisa.

Untuk masalah komunikasi, telepon umum koin jadi pilihan utama para generasi 90an untuk berhalo-halo ria dengan teman, pacar atau gebetan, atau sekadar nelpon minta jemput dari sekolah. Handphone baru ada yang pake di penghujung era 90an, itupun hanya anak-anak tertentu aja yang punya (yang mampu). Selain itu, ada juga pager, alat komunikasi yang  menjadi inspirasi lagu grup Sweet Martabak yang judulnya Tidit Tidit (Pagerku Berbunyiiii) #MalahIkutNyanyi. Kalo kangen sama lagu ini tonton aja videonya di sini. Pager saya juga sering pake buat request lagu ke stasiun radio favorit (ditambah salam buat ehm, seseorang).

Daaaan masih banyak lagi hal-hal yang menarik dari era tahun 90an. :D Banyak hal dalam buku ini yang nggak asal ditambahkan, tapi diambil dari hasil survey para generasi 90an. Akhir kata, membaca buku ini sangat-sangat menyenangkan. Memang membacanya nggak butuh waktu lama, baca langsung di toko buku pun bisa (kalo mau dan tahan dipelototin mbak dan mas SPG tobuk), tapi buku ini sudah dikemas dengan sedemikian lucunya oleh sang penulis, sehingga menurut saya sayang kalo kamu cuma membacanya di toko buku atau pinjam. Lebih baik punya, sehingga lewat gambar-gambar lucu coretan Marchella kamu bisa bernostalgia kapanpun dan dimanapun kamu mau, sendiri atau rame-rame, it’s your choice!

Nah, selamat bernostalgia! :)

Buku Generasi 90an plus bonus bookmark dan stickers :)

Buku Generasi 90an plus bonus bookmark dan stickers :)

Detail buku:

Generasi 90an, oleh Marchella FP
144 halaman, diterbitkan Februari 2013 oleh POP (lini produk KPG)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

***

A Note to My Secret Santa:

Terima kasih buat Santaku yang baik yang sudah mau membelikan aku buku ini, pake bonus bookmarks lucu-lucu lagi. Jujur saja aku malas beli buku ini karena isinya lebih banyak gambar daripada kata-kata, hehehe. Aku nggak perlu waktu lama untuk menebak siapa dirimu, karena riddle-mu cukup gampang (riddle dari Santa udah saya post di sini), dan sekali googling lalu liat blogmu aku langsung tahu that it’s you! :D

Dan Santaku adalah:

santa

Si Peri Hutan alias Sulis, intip blognya di Kubikel Romance

Makasih lagi yaaa! :*