Les Misérables & The Great Gatsby Movie Adaptations: Out this December!

December 2012 will be a totally blessed month for movie adaptations of classic literature. Both Les Misérables and The Great Gatsby will be premiering in that festive month! Wohohooo, who’s excited? I know I am.

Les Misérables is one of my favorite books of all time; you can read my review of it (in Indonesian) in this post. I have never read The Great Gatsby, but I will in five years. :D However, if you want to read the review of The Great Gatsby, please read this post (again in Indonesian) written by my friend, Fanda.

Here are the wonderful trailers! Enjoy!

Les Misérables
Release date: 14 December 2012 (USA)
Director: Tom Hooper (2011 Oscar’s Best Director for “The King’s Speech”)
Cast: Hugh Jackman as Jean Valjean, Russell Crowe as Javert, Anne Hathaway as Fantine, Amanda Seyfried as Cosette, Eddie Redmayne as Marius, Sacha Baron Cohen as Monsieur Thenardier, Helena Bonham Carter as Madame Thenardier

 



The Great Gatsby

Release date: 25 December 2012 (USA)
Director: Baz Luhrmann (well-known for “William Shakespeare’s Romeo + Juliet” and “Moulin Rouge”)
Cast: Leonardo DiCaprio as Jay Gatsby, Carey Mulligan as Daisy Buchanan, Tobey Maguire as Nick Carraway, Joel Edgerton as Tom Buchanan, Isla Fisher as Myrtle Wilson, Amitabh Bachchan as Meyer Wolfsheim, Callan McAuliffe as Young Jay Gatsby

Source: IMDb.com and Youtube.com

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion

# Conclusion in English at the bottom of the post #

Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua. :)

7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)

Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.

 

8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)

Inilah  cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!

 

9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)

Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…

 

10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)

Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.

 11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)

Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…

 

12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)

Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.

***

Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.

Conclusion in English:

 

I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.

This review is submitted to The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway by Quirky Girls Read.

 

Detail buku:

Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

Weigh in Wednesday [3]: Poetry vs. Prose

Thanks to Lauren of Epilogue Review for inviting me to join this weekly meme of her blog!

Weigh in Wednesday is a meme which is strictly a Something vs. Something type of thing. The purpose is for it to be short, interactive, and something fun to do halfway through the week!

The topic this week is:

Poetry vs. Prose

This time I gotta say BOTH! While I enjoy reading prose in novels, novellas, and short stories in various genres: from classics, historical fiction, children’s books, to some thriller, fantasy, young adult, adult fiction, and romance; I have always loved poetry. The last World Poetry Day I wrote a blog post describing my love for poetry (it was written in Indonesian, but there are some poems by Percy Bysshe Shelley, Robert Frost, and Walt Whitman in it). And mind you who are skeptic about poetry: poetry is not all about love and melancholy. It could be witty, contemplative, and horrifying. One of my favorite poem by Sir Walter Ralegh (?1552-1618) talked about faith, and death. It says:

Even such is Time, which takes in trust

Our youth, our joys, and all we have,

And pays us but with age and dust;

Who in the dark and silent grave,

When we have wandered all our ways,

Shuts up the story of our days:

And from which earth, and grave, and dust,

The Lord shall raise me up, I trust.

For me, poetry is as amazing as prose (especially in the right hands of brilliant poets and authors). What do you think?

Character Thursday [6] – Phantom of the Opera

Ternyata sudah lama saya gak ikutan Character Thursday ;;)

Tokoh pilihan saya minggu ini adalah tokoh utama dari novel gothic karya Gaston Leroux, The Phantom of the Opera. (Baca reviewnya di sini.)

The Phantom of the Opera (Hantu Opera)

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar istilah “Hantu Opera”? Sang Phantom (hantu) bukanlah makhluk transparan yang melayang-layang, ia sebenarnya manusia dengan darah dan daging, tapi penampilannya sungguh mengerikan. Deskripsi fisik si hantu seperti di bawah ini:

“Sosoknya luar biasa kurus; mantel hitamnya menggantung bebas di badannya yang hanya tulang-tulang. Matanya menatap tajam ke depan, tidak bergerak, dan letaknya begitu dalam di rongga matanya sehingga kau nyaris tidak melihatnya. Kau hanya melihat dua buah lubang gelap, seperti yang biasa terlihat pada tengkorak. Kulitnya sekeras kulit beduk. Warnanya bukan putih, melainkan kuning kusam. Hidungnya begitu kecil sehingga kau tidak dapat melihatnya ketika memandangnya dari samping, dan ketiadaan hidung tersebut membuatnya menyeramkan. Rambutnya berupa tiga atau empat gumpalan hitam yang terjurai di dahi dan di belakang telinganya.” – hal. 19

The Phantom of the Opera versi 1925, diperankan Lon Chaney
Gambar dari sini

Menyeramkan bukan? Itulah Phantom of the Opera yang asli, bandingkan dengan Phantom versi film yang diperankan oleh Gerard Butler. Kalau Phantomnya Gerard Butler mah, saya nggak nolak kalau doi tiba-tiba datang dan memberikan pelajaran menyanyi. Suara saya jadi bagus dan sekalian saya manjain mata. Hahahahaha XD. Kalau Phantom asli yang “mayat hidup” yang datang, saya bakal lari duluan kayaknya… :-P

Gerard Butler as Phantom #uhuk

Bagaimanapun buruknya rupa dan pribadi si hantu, ia benar-benar sangat mencintai Christine, walaupun mungkin dengan cara yang salah. Berikut pernyataan cinta sang Phantom kepada Christine:

“Kau harus tahu,” katanya, dia berbicara dari belakang tenggorokannya dan meraung seperti tungku perapian, “bahwa aku seluruhnya terbuat dari kematian, dari kepala sampai kaki, dan inilah mayat yang mencintaimu, mengagumi, dan tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak pernah! Aku ingin memperlebar peti mati, Christine, untuk suatu saat nanti, ketika kita mencapai akhir cinta kita.” – hal. 248

Mau tak mau, di akhir cerita saya merasa kasihan pada si hantu. Perilakunya yang jahat juga adalah produk dari perlakuan buruk masyarakat. Karena wujudnya yang buruk, bagaimana mungkin ia berharap bahwa ada seseorang yang mencintainya sebagaimana adanya? Bila saja ia punya penampilan fisik normal, ia pasti akan menjadi seseorang yang hebat dan terkenal. Bagaimana tidak, Hantu Opera yang disebut Christine sebagai Malaikat Musik adalah komposer, ilusionis, arsitek, dan sekaligus psikopat. Lalu apa yang bisa disimpulkan dari seorang Phantom? Ia benar-benar sebuah karakter yang kompleks. Saya tidak bisa mencintai karakternya, namun sulit juga untuk benar-benar membencinya.

***

Character Thursday

  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

  1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
  2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
  3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
  4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di post ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
  5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Nah, siapa Character Thursday mu minggu ini?

Weigh in Wednesday [2]: Novellas vs. Anthologies

Thanks to Lauren of Epilogue Review for inviting me to join this weekly meme of her blog!

Weigh in Wednesday is a meme which is strictly a Something vs. Something type of thing. The purpose is for it to be short, interactive, and something fun to do halfway through the week!

The topic this week is:

Novellas vs. Anthologies

I read both of them, but I must say that I prefer novellas. The problem with anthologies is that they usually come from various authors with different writing styles. Even though an anthology brought one theme, I found it difficult to like it as a whole piece. There’s always some parts of the anthology that I like and some other parts that I don’t . I haven’t read much of modern-day short stories, while some of the classic short stories authors that I love and long to read more from are: Leo Tolstoy, O. Henry, and Edgar Allan Poe. I prefer novellas because the room for building conflict is larger than in short stories. But they all come back to the author who writes them, of course. :)

What about you? Would you pick novellas or anthologies? Let Lauren know with linking your post of WiW here.

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part 1

Untuk pertama kalinya, review satu buku saya jadikan dua bagian. Karena kebetulan buku ini adalah kumpulan cerpen, maka tidak ada salahnya bila saya membahas satu per satu cerpen yang ada di dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini. Enam cerpen pertama dari kedua belas cerpen yang ada dalam Petualangan Sherlock Holmes inilah yang akan saya bahas dalam review bagian pertama ini.

 1. Skandal di Bohemia (judul asli: A Scandal in Bohemia)

Cerpen Sherlock Holmes pertama yang pernah diterbitkan ini membuka perkenalan pertama saya dengan Sherlock Holmes dengan cukup mulus. Melalui kacamata Watson, saya tidak hanya jadi tahu tentang reputasi dan kebiasaan-kebiasaan Holmes, tetapi juga sosok wanita yang dikaguminya. Cukup pribadi untuk perkenalan pertama, bukan? Ya, sosok wanita istimewa itu adalah Irene Adler, mantan penyanyi opera, petualang asmara, dan seorang wanita yang luar biasa cantik. Ms. Adler terlibat hubungan rahasia dengan Raja Bohemia, dan sang raja yang akan menikah, menghendaki agar bukti-bukti hubungan gelapnya dengan wanita itu direnggut dari tangan Irene. Sang raja meminta bantuan detektif kita untuk menjalankan rencana ini dan… peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa di mana Sherlock Holmes dikelabui oleh seorang wanita.

 2. Kasus Identitas (judul asli: A Case of Identity)

Suatu malam, apartemen Holmes di Baker Street kedatangan seorang wanita muda yang bingung, bernama Mary Sutherland. Miss Mary mengaku bahwa tunangannya, Mr. Hosmer Angel telah menghilang tepat di hari pernikahannya dengan Mary. Adapun Mary adalah seorang wanita muda yang berpenghasilan cukup, dan ayah tirinya (yang hanya lebih tua 5 tahun dari dirinya) menentang keras hubungannya dengan Mr. Angel, sehingga pernikahan diantara Mary dan Mr. Angel harus dilaksanakan secara diam-diam. Lalu sekarang ketika sang tunangan misterius itu menghilang, apa yang harus dilakukan Mary? Sherlock Holmes membongkar misteri ini dengan cukup mudah, tanpa “merenggut angan-angan indah dari seorang gadis”; sebagaimana yang dikutipnya dari seorang penyair Persia bernama Hafiz.

 3. Perkumpulan Orang Berambut Merah (judul asli: The Adventure of the Red-Headed League)

I wonder why Ron Weasley wasn’t in this story! Hahaha. Setiap kali membaca tentang orang berambut merah menyala, mau tak mau saya teringat akan Ron Weasley. Kebetulan pengarang yang menciptakan karakter Ron dan pengarang yang menulis cerpen ini berasal dari negara yang sama. Tokoh utama berambut merah dalam cerpen ini adalah Mr. Jabez Wilson, seorang pedagang paruh baya dengan penghasilan pas-pasan yang memiliki tempat usaha di salah satu sudut kumuh kota London. Suatu hari, ia mendengar tentang lowongan yang dipasang “Perkumpulan Orang Berambut Merah” yang mencari pegawai untuk melakukan pekerjaan ringan, namun dengan gaji yang cukup besar. Asisten Mr. Wilson, Vincent Spaulding, mendorong Mr. Wilson untuk melamar pekerjaan itu, dan benar saja, dengan sangat mudah ia diterima. Ia melakukan pekerjaan untuk Perkumpulan Orang Berambut Merah untuk beberapa minggu, dengan menyalin Encyclopedia Britannica. Betapa kagetnya ia ketika suatu hari perkumpulan itu dikabarkan bubar begitu saja. Memang, Mr. Wilson tidak rugi apa-apa, karena toh ia sudah mendapatkan penghasilan tambahan untuk beberapa minggu, dan tambahan pengetahuan dari hasil menyalin ensiklopedi, namun ia tidak rela pekerjaan bagus ini hilang begitu saja, dan Sherlock Holmes pun tertarik akan kasus yang aneh ini. Benar saja, memang ada “udang di balik batu” dari perkumpulan aneh ini, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mr. Wilson, atau orang-orang lain.

 4. Misteri di Boscombe Valley (judul asli: The Boscombe Valley Mystery)

Seorang petani yang tinggal di daerah pedesaan di Herefordshire terbunuh dengan tangan dingin, dan tersangka utama pembunuhan ini adalah putranya sendiri. Bagaimana mungkin? Sementara semua bukti dan kesaksian menunjuk kepada si pemuda, James McCarthy muda, dan vonis hampir pasti menyatakan bahwa ia bersalah; sementara itu Sherlock Holmes kembali menyusuri tempat kejadian perkara dan menemukan fakta-fakta kecil yang bisa jadi menunjukkan bahwa bukan si pemuda pelakunya… Cerpen yang satu ini menarik karena di sini kita bisa melihat bagaimana Conan Doyle memutarbalikkan asumsi para tokoh yang beranggapan bahwa James McCarthy pasti bersalah, ternyata malah sama sekali keliru.

 5. Lima Butir Biji Jeruk (judul asli: The Five Orange Pips)

Cerpen favorit saya dari enam cerpen pertama dalam Petualangan Sherlock Holmes. Kasus yang ditangani Holmes yang satu ini benar-benar aneh dan misterius. Tiga pembunuhan yang terjadi semuanya ditandai dengan datangnya amplop berisi lima butir biji jeruk yang sudah kering, dan tulisan K.K.K. berwarna merah di bagian dalam amplop. Anehnya lagi, kematian ketiga orang tersebut tampak seperti bunuh diri atau kecelakaan, padahal sesungguhnya adalah pembunuhan. Cerpen ini memuat sejarah singkat tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang mempunyai reputasi dan agenda yang sadis dan mengerikan. Dan walaupun endingnya menggantung, cerpen yang satu ini cukup membuat saya penasaran dan tegang karena kisahnya, dan saya jadi ingin membaca lebih banyak tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang membuat jantung terasa dingin itu.

 6. Pria Berbibir Miring (judul asli: The Man With the Twisted Lip)

Ketika hendak menjemput Isa Whitney, suami dari teman istrinya, Dr. Watson terkaget-kaget ketika menjumpai teman baiknya, Sherlock Holmes sedang berada di dalam pondok candu yang sama dengan Mr. Whitney. Ternyata Holmes sedang menyelidiki kasus di mana seorang pria, Neville St. Clair, dilaporkan belum pulang ke rumah selama dua hari. Namun, istrinya sempat melihatnya di atas atap pondok candu, namun kemudian menghilang begitu saja seperti ditarik seseorang dari belakang. Mereka hanya menemukan sebagian pakaian Mr. St. Clair dari hasil pemeriksaan di lantai atas pondok candu itu, sementara jasnya baru ditemukan belakangan. Seorang pengemis bernama Hugh Boone tinggal di lantai atas pondok candu itu, ia mempunyai bekas luka mengerikan pada wajahnya yang menyebabkan pinggiran bibir atasnya tertarik ke atas kalau wajahnya sedang bergerak-gerak. Bagaimana keterlibatan si pengemis dalam peristiwa hilangnya Mr. St. Clair? Lalu dimanakah pria itu sebenarnya?

***

Sejauh ini, kumcer Petualangan Sherlock Holmes layak diganjar tiga bintang. Beberapa cerpen memang agak datar dan membosankan, namun beberapa lainnya berhasil memukau saya dengan cara brilian Sherlock Holmes memecahkan kasus dan perhatiannya kepada detail-detail kecil yang dianggap orang tak penting. Seandainya saya bertemu dengan Sherlock Holmes saat review ini terbit, ia pasti akan memperhatikan lingkaran hitam dibawah kedua mata saya yang menunjukkan bahwa saya sering tidur larut malam dan jari telunjuk kanan saya yang kelihatan lebih berotot daripada jari-jari yang lain karena keseringan digunakan memencet-mencet mouse; tapi saya harus berhenti menulis sekarang.

Review ini diposting bersama-sama dengan beberapa BBI-ers dalam rangka merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153 (22 Mei 1859-22 Mei 2012)

Happy birthday, Sir Arthur Conan Doyle!

Dan sampai jumpa di bagian kedua review ini! ;)

Baca juga:
Mini biografi Sir Arthur Conan Doyle
Event Baca Klasik Mei 2012: Sherlock Quest
Sherlock Classics Quest Game

[Review] The Phantom of the Opera

# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #

Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.

Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.

Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.

Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?

***

Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.

Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.

Conclusion in English:

Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.

Detail buku:

“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Music Video] The Phantom of the Opera, 2004 version

I love these songs that they deserve a post! And yes, the main theme intro always gives me goosebumps.

“The Phantom of the Opera Main Theme” – Lyrics

CHRISTINE
In sleep he sang to me
In dreams he came
That voice which calls to me and speaks my name
And do I dream again for now I find
The Phantom of the Opera is there
Inside my mind

PHANTOM
Sing once again with me
Our strange duet
My power over you grows stronger yet
And though you turn from me to glance behind
The Phantom of the Opera is there
Inside your mind

CHRISTINE
Those who have seen your face
Draw back in fear
I am the mask you wear

PHANTOM
It’s me they hear…

BOTH
Your/My spirit and my/your voice in one combined
The Phantom of the Opera is there
Inside my/your mind

BACKGROUND
He’s there, the phantom of the opera!

CHRISTINE
He’s there, the phantom of the opera

PHANTOM
In all your fantasies, you always knew
that man and mystery . . .

CHRISTINE
. . . were both in you . . .

BOTH
And in this labyrinth,
where night is blind,
the Phantom of the Opera
is there/here inside your/my mind . . .

PHANTOM
Sing, my Angel of Music!

CHRISTINE
He’s there,
the Phantom of the Opera . . .
(vocalizing)

PHANTOM
Sing, Sing
Sing for me
Sing, my Angel of music
Sing for me!

***

And the song below is my favorite of all Andrew Lloyd Webber’s The Phantom of the Opera songs:

“All I Ask of You” – Lyrics

RAOUL
No more talk of darkness,
Forget these wide-eyed fears
I’m here, nothing can harm you
my words will warm and calm you
Let me be your freedom,
let daylight dry your tears.
I’m here with you, beside you,
to guard you and to guide you…

CHRISTINE
Say you love me every waking moment,
turn my head with talk of summertime…
Say you need me with you now and always…
Promise me that all you say is true
that’s all I ask of you

RAOUL
Let me be your shelter
let me be your light
You’re safe, No one will find you
your fears are far behind you…

CHRISTINE
All I want is freedom,
a world with no more night
and you, always beside me, to hold me and to hide me…

RAOUL
Then say you’ll share with me
one love, one lifetime
let me lead you from your solitude
Say you need me with you here, beside you…
anywhere you go, let me go too
Christine, that’s all I ask of you…

CHRISTINE
Say you’ll share with me one love, one lifetime…
say the word and I will follow you…
(right) BOTH:
Share each day with me,
each night, each morning…
(right) CHRISTINE
Say you love me…

RAOUL
You know I do…

BOTH
Love me – that’s all I ask of you
Anywhere you go let me go too
Love me – that’s all I ask of you…

***

Songs composed by Andrew Lloyd Webber, videos from The Phantom of the Opera 2004 movie adaptation directed by Joel Schumacher
Lyrics copied from ST Lyrics

Classic Author of May 2012: Sir Arthur Conan Doyle

Siapa tak kenal Sherlock Holmes? Sosok detektif bohemian yang diceritakan hidup di abad ke-19 Inggris ini begitu terkenal seantero dunia. Sekarang, mari kita berkenalan dengan “bapak” dari Sherlock Holmes, yaitu Sir Arthur Conan Doyle.

Pria bernama lengkap ARTHUR IGNATIUS CONAN DOYLE ini lahir di 11 Picardy Place, Edinburgh, Skotlandia, pada tanggal 22 Mei 1859. Beliau dilahirkan dalam keluarga Katolik Irlandia yang terbilang kaya. Ayahnya, Charles Altamont Doyle mempunyai ketergantungan parah terhadap alkohol sementara ibunya, Mary Foley Doyle, adalah seorang kutu buku dan pendongeng ulung yang memiliki bakat “sinking her voice to a horror-stricken whisper” saat mencapai titik puncak dalam pembacaan sebuah cerita. Doyle memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, sehingga dalam biografinya beliau menggambarkan ibundanya seperti berikut: “In my early childhood, as far as I can remember anything at all, the vivid stories she would tell me stand out so clearly that they obscure the real facts of my life.”

Pengarang yang sekaligus berprofesi sebagai dokter ini mulai menulis cerita pendek ketika menempuh pendidikan kedokterannya di University of Edinburgh (1876-1881). Di universitas tersebut beliau bertemu dengan James Barrie dan Robert Louis Stevenson, namun sosok yang menjadi sasaran kekagumannya adalah salah seorang gurunya, Dr. Joseph Bell, yang nantinya menjadi inspirasi karakter Sherlock Holmes.

Selagi menempuh kuliah, Doyle mulai mengasah kemampuannya dalam menulis. Cerita pendek karyanya yang pertama kali diterbitkan berjudul “The Mystery of Sasassa Valley”, merupakan sebuah cerita yang mengambil setting Afrika Selatan, muncul dalam Chamber’s Edinburgh Journal pada tanggal 6 September 1879. Di bulan yang sama pada tanggal 20, artikel ilmiah pertamanya, “Gelsemium as a Poison” diterbitkan dalam British Medical Journal.

Pada tahun 1881, Doyle merayakan keberhasilannya dalam meraih gelar Bachelor of Medicine dan Master of Surgery dengan menggambar sketsa lucu-lucuan dirinya yang sedang menerima diploma, dan menambahkan teks di bawahnya: “Licensed to Kill.” Setelah lulus kuliah, Doyle bekerja sebagai dokter militer di kapal SS Mayumba yang menempuh perjalanan dari Liverpool ke daerah pantai barat Afrika.

Doyle menelurkan novel pertama Sherlock Holmes yang berjudul A Study in Scarlet pada tanggal 20 November 1886, diterbitkan oleh Ward Lock & Co, dan juga dimuat di Beeton’s Christmas Annual. Selanjutnya, sekuel dari A Study in Scarlet; The Sign of the Four, muncul dalam Lippincott’s Magazine pada bulan Februari 1890, sedangkan cerpen-cerpen Sherlock Holmes dimuat dalam Strand Magazine. Potret Sherlock Holmes digambar oleh Sidney Paget dengan mengambil saudara lelakinya yang tampan, Walter, sebagai model. Selanjutnya, novel-novel Sherlock Holmes diterbitkan secara berseri dalam Strand Magazine; The Hound of the Baskervilles pada bulan Agustus 1901, dan novel terakhir Sherlock Holmes, The Valley of Fear, mulai terbit pada awal tahun 1914.

Saat terjadinya Boer War di Afrika Selatan pada pergantian abad dari abad 19 ke abad 20, Doyle menulis artikel singkat berjudul The War in South Africa: Its Cause and Conduct yang menjelaskan peranan Inggris dalam Boer War, yang sebelumnya sempat dicerca oleh dunia. Inilah yang dianggap menjadi penyebab beliau dianugerahi gelar ksatria oleh Raja Edward VII pada tahun 1902.

Karakter Sherlock Holmes muncul dalam tidak kurang dari 56 cerita pendek dan 4 novel karya Conan Doyle, belum lagi muncul dalam banyak cerita dan novel karya pengarang-pengarang lain. Selain seri Sherlock Holmes yang tidak perlu dipertanyakan ketenarannya, Doyle juga menulis seri fiksi ilmiah Professor Challenger, novel sejarah, puisi, dan naskah sandiwara, yang beliau harapkan dapat menegakkan posisinya sebagai seorang pengarang yang “serius”. Salah satu novel dalam seri Professor Challenger yang terkenal adalah The Lost World (1912), yang menceritakan tentang petualangan dan penemuan flora dan fauna prasejarah di daerah terpencil dan misterius di Amerika Selatan. 81 tahun kemudian, “The Lost World” digunakan oleh pengarang Michael Crichton sebagai judul sekuel novel Jurassic Park.

Patung Sherlock Holmes di Picardy Place, Edinburgh

Sebuah patung Conan Doyle berdiri di Crowborough, sebagai penghargaan bagi beliau yang tinggal di daerah itu selama kurang lebih 23 tahun. Di Picardy Place, dekat rumah di mana Doyle dilahirkan, juga berdiri patung Sherlock Holmes.

Conan Doyle mempunyai lima orang anak. Dua orang dari istri pertamanya, Louisa Hawkins, yaitu Mary Louise dan Arthur Alleyne Kingsley. Setelah Louisa meninggal pada tahun 1906, beliau menikahi Jean Elizabeth Leckie, seorang perempuan yang multitalenta, dan mereka dikaruniai tiga orang anak yaitu Denis Percy Stewart, Adrian Malcolm, dan Jean Lena Annette.

Beliau meninggal dunia pada usia 71 tahun akibat serangan jantung pada 7 Juli 1930 di rumahnya, Windlesham, di Crowborough, East Sussex, dengan kata-kata terakhir yang ditujukan kepada istrinya; “You are wonderful.” Setelah sebelumnya dimakamkan di halaman Windlesham, jenazahnya dikebumikan bersama istrinya di pekarangan gereja Minstead di New Forest, Hampshire. Sebagian tulisan pada batu nisannya berbunyi, “Steel true/Blade straight/Arthur Conan Doyle/Knight/Patriot, Physician, and man of letters”.

Masih banyak detail menarik dari kehidupan Sir Arthur Conan Doyle yang tidak dimuat dalam artikel ini, misalnya ketertarikannya dalam Spiritualisme, keterlibatannya dalam reformasi Congo, studi spesialis mata yang ditempuhnya di Vienna, dan keputusannya untuk meninggalkan dunia medis demi menulis. Satu hal yang dapat kita catat mengenai beliau adalah; Sir Arthur Conan Doyle was so much more than just Sherlock Holmes, the fictional character he created.

“My mind rebels at stagnation. Give me problems, give me work, give me the most abstruse cryptogram, or the most intricate analysis, and I am in my own proper atmosphere. But I abhor the dull routine of existence. I crave for mental exaltation.” – Sir Arthur Conan Doyle

Dari berbagai sumber
Sebagian gambar diambil dari situs http://www.sherlockholmesonline.org/

***

Untuk merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153, selama bulan Mei Komunitas Baca Klasik menyelenggarakan event Sherlock Quest yaitu lomba review, quiz, dan game. Info lengkapnya bisa dibaca di sini. Review kumcer Petualangan Sherlock Holmes juga akan terbit di blog ini pada tanggal tersebut. Mari berkutat dengan misteri bersama Sherlock Holmes!

Weekend Quote #1

Mari merayakan akhir pekan dengan memposting quote pilihan dari bacaan terakhirmu! Terima kasih buat Listra dari blog Half-Filled Attic yang telah memprakarsai meme ini. :)

Weekend Quote

The idea is to pick a quote from a book or author you read, like, or hate, and write your comment about it. You can post the “Weekend Quote” article every weekend (Saturday or Sunday), or at any weekend suits you best.

Here are the rules:

  • You have to pick one quote and comment about it. It may be the reason why you agree or don’t agree with it, or why it is interesting for you. I can also be your experience that reminds you of that quote. Feel free to use your imagination. :D
  • Please put the picture of “Weekend Quote” on either your blog sidebar or everytime you post the quote. (It helps people to know what we are doing).
  • Please give a link back to Listra’s post.

***

Quote yang saya pilih untuk weekend ini berasal dari buku yang baru saja saya tamatkan, The Phantom of the Opera oleh Gaston Leroux. Versi yang saya baca adalah terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi. Saya sudah mencoba untuk mencari versi bahasa Inggris dari quote ini di Online Literature dan di Project Gutenberg, namun tidak ketemu. Quote ini ada di dalam Chapter XII: Apollo’s Lyre (dalam versi Serambi Bab XIII: Lira Dewa Apollo).

“Musik mempunyai kekuatan untuk menghapus semuanya di dunia kecuali musik itu sendiri, yang langsung masuk ke dalam hati. Petualanganku yang aneh telah terlupakan. Si Suara telah menjadi nyata lagi dan aku mengikutinya, terpesona, dalam perjalanannya yang harmonis. Aku menjadi pengikut Orpheus! Dia membawaku menyusuri kesedihan, kegembiraan, kesyahidan, putus asa, kebahagiaan, kematian, dan kegemilangan perkawinan. Aku mendengarkan, dia bernyanyi; dia menyanyikan untukku sepotong lagi yang tidak kukenal, dan musik baru yang memberikanku kesan aneh mengenai kelembutan, kelesuan, dan kedamaian, musik yang menggerakkan jiwaku, lalu lama-kelamaan menyejukkan dan membawaku ke ambang pintu mimpi. Aku tertidur.”

Semua baris menakjubkan ini dirangkum menjadi hanya satu kalimat konyol: “He sang me to sleep.” Too bad. :(
Anyway, quote ini adalah salah satu hal yang menandai betapa artistiknya gaya penulisan Gaston Leroux. Tidak mudah menggambarkan keindahan dan kemegahan musik dalam kata-kata! Konon di dalam cerita, Christine Daae mendapatkan kemajuan signifikan dalam kemampuannya bernyanyi, karena Sang Malaikat Musik sendiri yang memberikan kepadanya pelajaran menyanyi. Hohoho… saya juga mau seperti itu, tapi nggak mau kalau Malaikat Musiknya datang dalam bentuk mayat hidup, hahaha… =))

Apa quote pilihanmu weekend ini? Jangan lupa tinggalkan link di post Weekend Quote Listra ya!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 703 other followers