Les Misérables & The Great Gatsby Movie Adaptations: Out this December!
December 2012 will be a totally blessed month for movie adaptations of classic literature. Both Les Misérables and The Great Gatsby will be premiering in that festive month! Wohohooo, who’s excited? I know I am.
Les Misérables is one of my favorite books of all time; you can read my review of it (in Indonesian) in this post. I have never read The Great Gatsby, but I will in five years.
However, if you want to read the review of The Great Gatsby, please read this post (again in Indonesian) written by my friend, Fanda.
Here are the wonderful trailers! Enjoy!
Les Misérables
Release date: 14 December 2012 (USA)
Director: Tom Hooper (2011 Oscar’s Best Director for “The King’s Speech”)
Cast: Hugh Jackman as Jean Valjean, Russell Crowe as Javert, Anne Hathaway as Fantine, Amanda Seyfried as Cosette, Eddie Redmayne as Marius, Sacha Baron Cohen as Monsieur Thenardier, Helena Bonham Carter as Madame Thenardier
The Great Gatsby
Release date: 25 December 2012 (USA)
Director: Baz Luhrmann (well-known for “William Shakespeare’s Romeo + Juliet” and “Moulin Rouge”)
Cast: Leonardo DiCaprio as Jay Gatsby, Carey Mulligan as Daisy Buchanan, Tobey Maguire as Nick Carraway, Joel Edgerton as Tom Buchanan, Isla Fisher as Myrtle Wilson, Amitabh Bachchan as Meyer Wolfsheim, Callan McAuliffe as Young Jay Gatsby
Source: IMDb.com and Youtube.com
[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion
# Conclusion in English at the bottom of the post #
Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua.
7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)
Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.
8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)
Inilah cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!
9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)
Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…
10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)
Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.
11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)
Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…
12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)
Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.
***
Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.
Conclusion in English:
I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.
This review is submitted to The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway by Quirky Girls Read.
Detail buku:
Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
Weigh in Wednesday [3]: Poetry vs. Prose
Thanks to Lauren of Epilogue Review for inviting me to join this weekly meme of her blog!
Weigh in Wednesday is a meme which is strictly a Something vs. Something type of thing. The purpose is for it to be short, interactive, and something fun to do halfway through the week!
The topic this week is:
Poetry vs. Prose
This time I gotta say BOTH! While I enjoy reading prose in novels, novellas, and short stories in various genres: from classics, historical fiction, children’s books, to some thriller, fantasy, young adult, adult fiction, and romance; I have always loved poetry. The last World Poetry Day I wrote a blog post describing my love for poetry (it was written in Indonesian, but there are some poems by Percy Bysshe Shelley, Robert Frost, and Walt Whitman in it). And mind you who are skeptic about poetry: poetry is not all about love and melancholy. It could be witty, contemplative, and horrifying. One of my favorite poem by Sir Walter Ralegh (?1552-1618) talked about faith, and death. It says:
Even such is Time, which takes in trust
Our youth, our joys, and all we have,
And pays us but with age and dust;
Who in the dark and silent grave,
When we have wandered all our ways,
Shuts up the story of our days:
And from which earth, and grave, and dust,
The Lord shall raise me up, I trust.
For me, poetry is as amazing as prose (especially in the right hands of brilliant poets and authors). What do you think?
Character Thursday [6] – Phantom of the Opera
Ternyata sudah lama saya gak ikutan Character Thursday ;;)
Tokoh pilihan saya minggu ini adalah tokoh utama dari novel gothic karya Gaston Leroux, The Phantom of the Opera. (Baca reviewnya di sini.)
The Phantom of the Opera (Hantu Opera)
Apa yang ada di benakmu ketika mendengar istilah “Hantu Opera”? Sang Phantom (hantu) bukanlah makhluk transparan yang melayang-layang, ia sebenarnya manusia dengan darah dan daging, tapi penampilannya sungguh mengerikan. Deskripsi fisik si hantu seperti di bawah ini:
“Sosoknya luar biasa kurus; mantel hitamnya menggantung bebas di badannya yang hanya tulang-tulang. Matanya menatap tajam ke depan, tidak bergerak, dan letaknya begitu dalam di rongga matanya sehingga kau nyaris tidak melihatnya. Kau hanya melihat dua buah lubang gelap, seperti yang biasa terlihat pada tengkorak. Kulitnya sekeras kulit beduk. Warnanya bukan putih, melainkan kuning kusam. Hidungnya begitu kecil sehingga kau tidak dapat melihatnya ketika memandangnya dari samping, dan ketiadaan hidung tersebut membuatnya menyeramkan. Rambutnya berupa tiga atau empat gumpalan hitam yang terjurai di dahi dan di belakang telinganya.” – hal. 19

The Phantom of the Opera versi 1925, diperankan Lon Chaney
Gambar dari sini
Menyeramkan bukan? Itulah Phantom of the Opera yang asli, bandingkan dengan Phantom versi film yang diperankan oleh Gerard Butler. Kalau Phantomnya Gerard Butler mah, saya nggak nolak kalau doi tiba-tiba datang dan memberikan pelajaran menyanyi. Suara saya jadi bagus dan sekalian saya manjain mata. Hahahahaha XD. Kalau Phantom asli yang “mayat hidup” yang datang, saya bakal lari duluan kayaknya…
Bagaimanapun buruknya rupa dan pribadi si hantu, ia benar-benar sangat mencintai Christine, walaupun mungkin dengan cara yang salah. Berikut pernyataan cinta sang Phantom kepada Christine:
“Kau harus tahu,” katanya, dia berbicara dari belakang tenggorokannya dan meraung seperti tungku perapian, “bahwa aku seluruhnya terbuat dari kematian, dari kepala sampai kaki, dan inilah mayat yang mencintaimu, mengagumi, dan tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak pernah! Aku ingin memperlebar peti mati, Christine, untuk suatu saat nanti, ketika kita mencapai akhir cinta kita.” – hal. 248
Mau tak mau, di akhir cerita saya merasa kasihan pada si hantu. Perilakunya yang jahat juga adalah produk dari perlakuan buruk masyarakat. Karena wujudnya yang buruk, bagaimana mungkin ia berharap bahwa ada seseorang yang mencintainya sebagaimana adanya? Bila saja ia punya penampilan fisik normal, ia pasti akan menjadi seseorang yang hebat dan terkenal. Bagaimana tidak, Hantu Opera yang disebut Christine sebagai Malaikat Musik adalah komposer, ilusionis, arsitek, dan sekaligus psikopat. Lalu apa yang bisa disimpulkan dari seorang Phantom? Ia benar-benar sebuah karakter yang kompleks. Saya tidak bisa mencintai karakternya, namun sulit juga untuk benar-benar membencinya.
***
- Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.
Syarat Mengikuti :
- Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
- Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
- Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
- Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di post ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
- Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…
Nah, siapa Character Thursday mu minggu ini?
Weigh in Wednesday [2]: Novellas vs. Anthologies
Thanks to Lauren of Epilogue Review for inviting me to join this weekly meme of her blog!
Weigh in Wednesday is a meme which is strictly a Something vs. Something type of thing. The purpose is for it to be short, interactive, and something fun to do halfway through the week!
The topic this week is:
Novellas vs. Anthologies
I read both of them, but I must say that I prefer novellas. The problem with anthologies is that they usually come from various authors with different writing styles. Even though an anthology brought one theme, I found it difficult to like it as a whole piece. There’s always some parts of the anthology that I like and some other parts that I don’t . I haven’t read much of modern-day short stories, while some of the classic short stories authors that I love and long to read more from are: Leo Tolstoy, O. Henry, and Edgar Allan Poe. I prefer novellas because the room for building conflict is larger than in short stories. But they all come back to the author who writes them, of course.
What about you? Would you pick novellas or anthologies? Let Lauren know with linking your post of WiW here.
[Review] The Phantom of the Opera
# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #
Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.
Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.
Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.
Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?
***
Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.
Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.
Conclusion in English:
Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.
Detail buku:
“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Music Video] The Phantom of the Opera, 2004 version
I love these songs that they deserve a post! And yes, the main theme intro always gives me goosebumps.
“The Phantom of the Opera Main Theme” – Lyrics
CHRISTINE
In sleep he sang to me
In dreams he came
That voice which calls to me and speaks my name
And do I dream again for now I find
The Phantom of the Opera is there
Inside my mind
PHANTOM
Sing once again with me
Our strange duet
My power over you grows stronger yet
And though you turn from me to glance behind
The Phantom of the Opera is there
Inside your mind
CHRISTINE
Those who have seen your face
Draw back in fear
I am the mask you wear
PHANTOM
It’s me they hear…
BOTH
Your/My spirit and my/your voice in one combined
The Phantom of the Opera is there
Inside my/your mind
BACKGROUND
He’s there, the phantom of the opera!
CHRISTINE
He’s there, the phantom of the opera
PHANTOM
In all your fantasies, you always knew
that man and mystery . . .
CHRISTINE
. . . were both in you . . .
BOTH
And in this labyrinth,
where night is blind,
the Phantom of the Opera
is there/here inside your/my mind . . .
PHANTOM
Sing, my Angel of Music!
CHRISTINE
He’s there,
the Phantom of the Opera . . .
(vocalizing)
PHANTOM
Sing, Sing
Sing for me
Sing, my Angel of music
Sing for me!
***
And the song below is my favorite of all Andrew Lloyd Webber’s The Phantom of the Opera songs:
“All I Ask of You” – Lyrics
RAOUL
No more talk of darkness,
Forget these wide-eyed fears
I’m here, nothing can harm you
my words will warm and calm you
Let me be your freedom,
let daylight dry your tears.
I’m here with you, beside you,
to guard you and to guide you…
CHRISTINE
Say you love me every waking moment,
turn my head with talk of summertime…
Say you need me with you now and always…
Promise me that all you say is true
that’s all I ask of you
RAOUL
Let me be your shelter
let me be your light
You’re safe, No one will find you
your fears are far behind you…
CHRISTINE
All I want is freedom,
a world with no more night
and you, always beside me, to hold me and to hide me…
RAOUL
Then say you’ll share with me
one love, one lifetime
let me lead you from your solitude
Say you need me with you here, beside you…
anywhere you go, let me go too
Christine, that’s all I ask of you…
CHRISTINE
Say you’ll share with me one love, one lifetime…
say the word and I will follow you…
(right) BOTH:
Share each day with me,
each night, each morning…
(right) CHRISTINE
Say you love me…
RAOUL
You know I do…
BOTH
Love me – that’s all I ask of you
Anywhere you go let me go too
Love me – that’s all I ask of you…
***
Songs composed by Andrew Lloyd Webber, videos from The Phantom of the Opera 2004 movie adaptation directed by Joel Schumacher
Lyrics copied from ST Lyrics
Weekend Quote #1
Mari merayakan akhir pekan dengan memposting quote pilihan dari bacaan terakhirmu! Terima kasih buat Listra dari blog Half-Filled Attic yang telah memprakarsai meme ini.
Weekend Quote
The idea is to pick a quote from a book or author you read, like, or hate, and write your comment about it. You can post the “Weekend Quote” article every weekend (Saturday or Sunday), or at any weekend suits you best.
Here are the rules:
- You have to pick one quote and comment about it. It may be the reason why you agree or don’t agree with it, or why it is interesting for you. I can also be your experience that reminds you of that quote. Feel free to use your imagination.
- Please put the picture of “Weekend Quote” on either your blog sidebar or everytime you post the quote. (It helps people to know what we are doing).
- Please give a link back to Listra’s post.
***
Quote yang saya pilih untuk weekend ini berasal dari buku yang baru saja saya tamatkan, The Phantom of the Opera oleh Gaston Leroux. Versi yang saya baca adalah terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi. Saya sudah mencoba untuk mencari versi bahasa Inggris dari quote ini di Online Literature dan di Project Gutenberg, namun tidak ketemu. Quote ini ada di dalam Chapter XII: Apollo’s Lyre (dalam versi Serambi Bab XIII: Lira Dewa Apollo).
“Musik mempunyai kekuatan untuk menghapus semuanya di dunia kecuali musik itu sendiri, yang langsung masuk ke dalam hati. Petualanganku yang aneh telah terlupakan. Si Suara telah menjadi nyata lagi dan aku mengikutinya, terpesona, dalam perjalanannya yang harmonis. Aku menjadi pengikut Orpheus! Dia membawaku menyusuri kesedihan, kegembiraan, kesyahidan, putus asa, kebahagiaan, kematian, dan kegemilangan perkawinan. Aku mendengarkan, dia bernyanyi; dia menyanyikan untukku sepotong lagi yang tidak kukenal, dan musik baru yang memberikanku kesan aneh mengenai kelembutan, kelesuan, dan kedamaian, musik yang menggerakkan jiwaku, lalu lama-kelamaan menyejukkan dan membawaku ke ambang pintu mimpi. Aku tertidur.”
Semua baris menakjubkan ini dirangkum menjadi hanya satu kalimat konyol: “He sang me to sleep.” Too bad. ![]()
Anyway, quote ini adalah salah satu hal yang menandai betapa artistiknya gaya penulisan Gaston Leroux. Tidak mudah menggambarkan keindahan dan kemegahan musik dalam kata-kata! Konon di dalam cerita, Christine Daae mendapatkan kemajuan signifikan dalam kemampuannya bernyanyi, karena Sang Malaikat Musik sendiri yang memberikan kepadanya pelajaran menyanyi. Hohoho… saya juga mau seperti itu, tapi nggak mau kalau Malaikat Musiknya datang dalam bentuk mayat hidup, hahaha… =))
Apa quote pilihanmu weekend ini? Jangan lupa tinggalkan link di post Weekend Quote Listra ya!

























