Suite Française – Irène Némirovsky

suite francaiseDisebut-sebut sebagai proyek paling ambisius dari penulis Prancis kelahiran Ukraina Irène Némirovsky, Suite Française berusaha menggambarkan penderitaan masyarakat Prancis—semendetail mungkin –pada sebuah kurun waktu dari Perang Dunia II. Lebih lanjut, Suite Française membawa sederetan karakter yang mewakili masyarakat Prancis dari berbagai kelas sosial.

Badai di Bulan Juni

Bagian pertama novel ini diberi judul “Badai di Bulan Juni”, mengambil waktu mulai dari bulan Juni 1940 saat tentara Jerman memulai pendudukan atas Prancis . Berikut ini adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya:

Yang pertama ada keluarga Péricand, keluarga kaya dan terhormat. Philippe, anak lelaki tertua pasangan Péricand adalah seorang pendeta, adiknya Hubert remaja delapan belas tahun yang masih kekanak-kanakan, dan tiga adik mereka, Bernard, Jacqueline, dan Emmanuel masih kecil-kecil. Kakek Péricand , sang ahli waris keluarga Maltête dari Lyon, sudah cacat dan duduk di kursi roda. Dengan kekayaan yang mereka miliki, keluarga Péricand selalu menyisihkan sebagian untuk amal sesuai dengan kewajiban penganut Kristen yang baik, demikian kata Madame Péricand.

Kemudian ada penulis Gabriel Corte, kaya dan terkenal, namun sangat sombong. Corte punya banyak wanita simpanan, namun hanya satu yang “resmi”, yaitu Florence. Mewakili rakyat kelas menengah, ada pasangan Michaud yang sederhana dan hidup dengan harmonis. Maurice sang suami bekerja sebagai karyawan bagian keuangan dan Jeanne sang istri sekretaris di bank yang dipimpin Monsieur Corbin. Pasangan Michaud memiliki seorang putra, Jean-Marie, yang ikut berperang membela Prancis. Dan juga ada Charles Langelet, seorang pria kaya kolektor barang-barang indah, yang dikenal sangat kikir.

Baik keluarga Péricand, Gabriel Corte dan Florence, pasangan Michaud, Monsieur Corbin dan wanita simpanannya, dan juga Charles Langelet mempunyai misi yang sama: pergi sejauh mungkin dari Paris karena kota itu akan diduduki tentara Jerman. Dari sini pembaca diajak menelusuri apa saja yang dialami para tokoh saat mereka pergi meninggalkan Paris. Yang kaya berusaha membawa sebanyak mungkin harta benda dan makanan yang mereka miliki, dan membawa mobil, tentu saja, walaupun persediaan bensin menipis. Sementara itu, pasangan Michaud yang tidak mendapat tumpangan di mobil Monsieur Corbin terpaksa pergi berjalan kaki, menyeret koper-koper berat dalam cuaca bulan Juni yang panas.

Mereka berusaha pergi dari Paris ke tempat tujuan masing-masing, di tengah ancaman bom dan tembakan dari pesawat-pesawat Jerman, belum lagi ancaman perampokan dari sesama warga sipil. Segalanya kacau balau. Dihadapkan dengan situasi yang sulit, barulah terungkap sifat asli masing-masing karakter. Madame Péricand yang selalu mengajari anak-anaknya untuk menolong orang lain, malah marah-marah ketika melihat dua anaknya membagi-bagikan permen dan cokelat dengan orang-orang di sekitar mereka. Maurice dan Jeanne Michaud menanggung beban mereka dengan cukup sabar, namun Jeanne dihantui ketakutan bahwa putra tercintanya tak selamat. Gabriel Corte dengan angkuh menolak kamar hotel yang baginya kurang nyaman, padahal ada sepuluh keluarga pengungsi lainnya yang memohon-mohon supaya diberikan kamar itu. Charles Langelet yang kehabisan bensin di tengah perjalanan tega mencuri mobil sepasang orang muda. Sementara itu Jean-Marie yang terluka, ditemukan dan dirawat oleh keluarga petani yang memiliki dua orang putri, yang pertama putri kandung dan yang satunya lagi putri angkat: Cécile dan Madeleine.

Dolce

Bagian kedua yang berjudul “Dolce” menceritakan bulan-bulan pertama pendudukan Jerman di Prancis. Ada beberapa karakter baru, antara lain:

Keluarga Angellier dari kaum borjuis, yang terdiri dari Madame Angellier dan menantu perempuannya, Lucile. Gaston, anak lelaki Madame Angellier dan suami Lucile, ikut berperang dan sedang ditawan oleh Jerman. Madame Angellier seorang wanita yang otoriter dan dominan, sedangkan Lucile yang cantik penyendiri dan kutu buku. Kedua wanita yang bertolak belakang ini tinggal di sebuah rumah indah di Bussy, desa yang pada saat itu diduduki tentara Jerman. Seperti di banyak rumah lainnya, mereka harus menerima seorang perwira Jerman untuk tinggal dalam rumah mereka.

Perwira Jerman yang tinggal di rumah Angellier bernama Bruno von Falk, pemuda tampan dengan mata besar dan rambut pirang. Walau pada mulanya Lucile bersikap kaku terhadap “musuh dalam selimut” ini, namun keramahan Bruno membuatnya luluh dan akhirnya mereka pun berteman. Hubungan pertemanan ini lambat laun berubah menjadi sesuatu yang lain… apalagi karena Lucile tak benar-benar mencintai suaminya yang serong. Hal ini tak luput dari pengamatan Madame Angellier yang merasa Lucile telah mengkhianati putranya.

Vicomte dan Vicomtesse de Montmort adalah sepasang bangsawan yang hipokrit. Sang Vicomtesse berseru di depan murid-murid sekolah supaya mereka “bermurah hati” dan “tidak memikirkan diri sendiri”, sementara ia sendiri memakai sepatu seharga delapan ratus lima puluh franc. Ada kebencian turun temurun antara keluarga Sabarie dan keluarga Montmort.

Keluarga Sabarie—keluarga petani yang merawat Jean-Marie Michaud—kembali muncul dalam bagian kedua novel ini. Madeleine sudah menikah dengan Benoît, putra keluarga Sabarie, meskipun ia masih mencintai Jean-Marie. Karena pertikaian dengan perwira Jerman yang tinggal di rumah mereka (Benoît cemburu buta melihat perwira itu menggoda istrinya), Benoît melarikan diri dan akhirnya bersembunyi di rumah keluarga Angellier. Madame Angellier yang notabene kelasnya jauh diatas Benoît, menerimanya demi membantu sesama orang Prancis.

Thoughts:

Jika pada Badai di Bulan Juni cerita mengalir lebih cepat dan dengan tone yang gelap, dalam Dolce cerita mengalir dengan lebih lambat dan tidak segelap bagian pertama, karena dalam Dolce pembaca melihat para tentara Jerman membangun hubungan baik dengan warga desa (entah tulus atau tidak), sampai-sampai warga desa menyesali saat kepergian mereka, dengan alasan jika mereka diduduki tentara lain lagi, belum tentu sikap tentara baru itu akan sebaik tentara Jerman yang pernah menduduki desa mereka.

Dalam Badai di Bulan Juni diperlihatkan bagaimana sebagian besar karakter bersikap buruk dan moralnya merosot, sementara kebaikan ditonjolkan oleh pasangan Michaud yang meski menderita, namun mereka tetap tulus, sabar dan nrimo. Hubungan yang harmonis antara pasangan suami istri Michaud cukup dapat menghangatkan hati pembaca, apalagi ketika mereka dihajar dengan hadiah yang manis pada akhir bagian pertama.

Hal paling menarik dalam Dolce mungkin adalah hubungan yang berkembang antara Lucile dan Bruno von Falk. Lucile yang sudah muak dengan suasana perang menemukan seorang teman dalam diri Bruno, dan memandangnya sepenuhnya sebagai seorang manusia yang bisa diajak berbicara dan berbagi; seragam hijau tentara Jerman yang dipakai Bruno diabaikan oleh mata Lucile.

“Tentu dalam perang,” katanya kepada dirinya sendiri, “ada tahanan perang, janda, penderitaan, kelaparan, pendudukan. Lalu, kenapa? Aku tak pernah melakukan hal yang salah. Dia seorang teman yang patut dihargai, buku, musik, percakapan-percakapan panjang kami, berjalan-jalan bersama di Hutan Maie… Yang menjadikan hal ini sebagai hal yang tak patut dilakukan adalah perang ini, penderitaan universal ini. Tetapi ia tak lebih bertanggung jawab daripada aku! Ini bukan salah kami. Kalau saja mereka membiarkan kami… Kalau saja mereka membiarkan saja kami!”

Pada akhirnya Lucile memutuskan bahwa meski perang yang kejam mengubah banyak hal, namun ia ingin kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, ia punya hak menentukan nasibnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia tak peduli bahwa negaranya dan negara si perwira saling berperang, karena kenyataannya Lucile dan Bruno bersahabat. Semua itu tidak salah… yang menjadikan salah adalah adanya perang yang memborbardir kedamaian antar manusia.

Mungkin, daya tarik paling utama dari Suite Française adalah fakta bahwa novel ini tidak selesai. Sang penulis, dalam catatan-catatan pribadi yang dilampirkan dalam apendiks, mengungkapkan rencananya untuk menulis novel dalam lima volume dengan total sekitar 1.600 halaman. Melalui apendiks kita tahu bahwa Irène Némirovsky tidak main-main dalam menulis, ia punya pemahaman memadai tentang keadaan politik dan sosial Prancis sebagai modal untuk menulis buku mahakaryanya. Walaupun tahu ajalnya sudah mendekat, ia tidak berhenti menulis. Dan penulisannya memang cantik meskipun terjemahannya (atau editannya, atau keduanya) kurang mampu mempertahankan kecantikan tulisan aslinya. Pada banyak bagian saya menemukan terjemahan yang aneh dan editan yang berantakan.

Kisah tentang sang penulis sendiri juga tak kalah menariknya (baca Prakata pada apendiks): beliau adalah seorang Yahudi yang ditangkap Jerman bulan Juli 1942 dan kelak tewas di kamar gas (dengan demikian meninggalkan Suite Française tidak terselesaikan). Diceritakan juga bagaimana manuskrip Suite Française selamat berkat Denise, putri Némirovsky dan baru dipublikasikan enam puluh tahun kemudian. Seandainya novel ini selesai, bukan tidak mungkin Suite Française bisa menyaingi kebesaran War and Peace karya Leo Tolstoy. Namun takdir sudah berkata lain, dan kita harus puas dengan dua bagian novel yang memberi kita sekilas pemahaman tentang perasaan dan penderitaan rakyat sipil Prancis saat Perang Dunia II berkecamuk, khususnya pada awal pendudukan Jerman di Prancis.


suite_francaise_12sht_f-page-001

Suite Française sudah difilmkan dengan bintang Michelle Williams sebagai Lucile Angellier, Matthias Schoenaerts sebagai Bruno von Falk dan Kristin Scott Thomas sebagai Madame Angellier. Bagaimana film ini mengembangkan cerita dari novelnya yang tidak selesai? Kita lihat saja nanti…

2nd review for Project Baca Buku Cetak | 2nd review for New Authors Reading Challenge 2015 | 1st review for Read Big Challenge 2015


Detail buku:

Suite Française, oleh Irène Némirovsky
642 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Qanita (Mizan Group) (pertama kali diterbitkan 2004)
My rating: ♥ ♥ ♥

The Beekeeper’s Apprentice – Laurie R. King

beekeeperMary Russell baru berusia lima belas tahun ketika ia bertemu dengan Sherlock Holmes untuk pertama kalinya. Dalam suatu pertemuan tanpa sengaja itu Holmes menyadari bahwa ia menemukan “permata yang terpendam”, yakni kecerdasan yang luar biasa yang tak disangkanya bisa ia temukan dalam diri seorang gadis muda. Saat itu Holmes yang sudah pensiun dan sudah memasuki usia paruh baya itu menyibukkan dirinya dengan beternak lebah. Tidak butuh waktu lama bagi Holmes untuk merekrut Mary sebagai muridnya. Mereka mulai bekerjasama dalam menangani berbagai kasus. Kasus yang pertama adalah suami seorang wanita yang tiba-tiba sakit secara mencurigakan, kemudian kasus penculikan seorang putri senator Amerika, dan yang terakhir teror bom yang mengancam nyawa Holmes, Russell, dan juga kawan-kawan dekat Holmes seperti Dr. Watson, Mrs. Hudson, dan juga Mycroft Holmes sehingga mereka harus berpencar ke segala arah demi mengatur strategi menghadapi musuh yang pintar dan licin ini.

[Spoiler Alert!]

Sebagai sebuah novel detektif, buku ini cukup menghibur. Dalam beberapa peristiwa pembaca dapat merasakan simpati yang dalam terhadap karakter Mary Russell yang kehilangan kedua orang tua dan adiknya melalui peristiwa yang sangat mengerikan dan memilukan, dan juga terhadap Sherlock Holmes, yang betapapun brilian otaknya, tetap seorang manusia yang tidak luput dari masa penuaan.

Bagi saya, ide mempertemukan sesosok tokoh detektif selevel Sherlock Holmes yang sudah mencapai usia senior (sekitar 60 tahun) dengan seorang gadis muda pintar yang kemudian menjadi murid dan selanjutnya partnernya—adalah sungguh-sungguh absurd. Namun, event Laurie R. King Read-A-Long yang dihost oleh Fanda bulan lalu membuat saya tertarik untuk membaca buku ini, dan mungkin juga karena faktor covernya yang merah dan mewah.

Dari beberapa novel yang mengambil era Regency (misalnya novel-novel Austen) dan era Victoria, memang pernikahan yang terjadi antara seorang gadis muda dan seorang lelaki yang lebih tua berpuluh-puluh tahun darinya sering terjadi dan mungkin dianggap lazim. Tapi bagaimana dalam setting waktu yang diambil buku ini, yaitu pada tahun 1920-an setelah Perang Dunia Pertama? Bagaimanapun, saya tetap merasa aneh bahwa karakter Mary Russell yang belum genap dua puluh tahun dan Sherlock Holmes yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun bisa memiliki hubungan yang romantis (atau setidaknya dalam buku ini, hampir romantis). Saya akan jauh lebih suka jika Mary Russell murni menjadi murid dan sidekick Sherlock Holmes tanpa membuat mereka menjadi pasangan romantis. Coba bayangkan Mary Russell yang beranjak dewasa memiliki pasangan dan Sherlock Holmes akan berperan menjadi “paman tua yang sok tahu dan selalu ikut campur”. Tak kalah menarik, bukan? Tapi, oh well, saya bukan sang penulis, dan seri ini toh telah diterbitkan sampai buku yang ke-12 (lihat semua serinya di sini).

Satu hal lagi yang saya tidak sukai dari buku ini, adalah adegan saat Holmes ingin mengerjakan sesuatu sendirian dan menolak melibatkan Russell, yang ditanggapi oleh Russell dengan: “Holmes, kau tidak bisa berbuat begini kepadaku. Kau tidak berkata apa-apa kepadaku, kau sama sekali tidak meminta saranku, hanya mendorongku ke sana kemari, mengabaikan segala rencana yang mungkin kumiliki, menyimpan rahasia dariku seakan aku adalah Watson, dan kini kau hendak pergi dan meninggalkanku dengan daftar belanjaan. Pertama-tama kalu menyebutku mitra, lalu kau mulai memperlakukanku seperti pelayan. Bahkan murid magang pun patut diperlakukan lebih baik dari pada itu.” – hal. 280

Dalam adegan yang lain pun Mary Russell menganggap Dr. Watson “tidak berguna” walaupun kemudian ia menyadari bahwa Watson sangat baik hati. Saya bukan pembaca setia seri Sherlock Holmes dan saya tidak tahu seperti apa hubungan Holmes-Watson yang sesungguhnya dalam tulisan Conan Doyle, namun bagi saya karakter Mary Russell dengan terang-terangan merendahkan peran Dr. Watson, and I dislike that. (Iya deh, mungkin ini efek dari terlalu banyak nonton seri Sherlock BBC di mana peran John Watson sangat signifikan bagi partnernya, Sherlock Holmes.)

Di luar hal-hal yang sudah saya sebutkan tersebut, The Beekeeper’s Apprentice tetap sebuah bacaan yang cukup mengasyikkan. Namun maaf sekali kepada Tante Laurie, dalam banyak hal, buku ini not really my cup of tea. Tiga bintang cukuplah buat buku ini.


Detail buku:

The Beekeeper’s Apprentice: Gadis Sherlock Holmes (Mary Russell #1), oleh Laurie R. King
428 halaman, diterbitkan Desember 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥

Pride and Prejudice – Jane Austen

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”


Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.

###

Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥

To Kill A Mockingbird – Harper Lee

To Kill A Mockingbird: Novel Tentang Kasih Sayang dan PrasangkaTo Kill A Mockingbird: Novel Tentang Kasih Sayang dan Prasangka by Harper Lee

My rating: 5 of 5 stars

Novel yang pernah memenangkan Pulitzer dan katanya terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia dan jadi bacaan wajib anak2 di AS ini akhirnya selesai juga kubaca.

Alurnya mengalir dengan menyenangkan, cenderung apa adanya tanpa kata-kata yang berlebihan, walaupun ada beberapa bagian terjemahan yg mengganggu.

To Kill a Mockingbird bercerita mengenai kehidupan seorang pengacara di kota kecil Maycomb, negara bagian Alabama bernama Atticus Finch, yang hidup dengan kedua anaknya Jem dan Scout Finch. Hidup kedua anak ini spontan berubah total ketika sang ayah memutuskan menjadi pengacara pembela bagi seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan. Dalam novel yang kukira bersetting sekitar tahun 1930-an ini sudah ada mobil, sudah ada Coca-Cola, namun salah satu yang belum ada adalah kesetaraan antara warga kulit putih dan kulit berwarna di Alabama.

Sampai membaca bab kesembilan, belum ketahuan alur sebenarnya dari kisah ini, yang ada ketika aku membaca bab 1-8 ada perasaan seperti sedang membaca seri misterinya R.L. Stine, karena dalam bab 1-8 tersebut diceritakan bagaimana Jem dan Scout serta teman mereka Dill, berusaha memancing tetangga mereka yang misterius yang tak pernah keluar rumah selama 20 tahun, Boo Radley, untuk keluar. Dalam bayangan mereka Boo adalah seseorang yang seperti monster jahat, dan aku tetap penasaran siapakah Boo Radley sesungguhnya sampai akhirnya penulis membukanya pada bab terakhir.

Pujian yang diberikan The New York Times kepada buku ini rasanya tidak berlebihan : “…karakter yang patut dikenang…”. Karakter favoritku tentu saja Atticus, sang pengacara paruh baya yang bijaksana, hampir tidak pernah lepas kontrol di depan siapapun. Setiap kata yang diucapkan Atticus sangat berharga bagi keseluruhan buku ini. Jem, anak lelakinya yang cerdas dan sedang memasuki masa pubertas yang membuat bingung adik perempuannya, Scout, gadis kecil 8 tahun yang ingin tahu dan cenderung emosional, yang belum tahu caranya “jadi wanita terhormat”.

Kepelikan konflik dalam kisah ini dan kompleksitas karakter-karakter lainnya, yang walaupun punya bagian kecil namun semuanya memberi nilai-nilai berharga untuk dipelajari, membuatku  setuju bahwa buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah ditulis.

Scout : “Tidak Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”

Jem : “Pikirku juga begitu, saat aku seusiamu. Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?”

View all my reviews

Softcover, 533 pages
Published : 2006 by Qanita (Mizan Group)
Literary Awards: Pulitzer Prize for Fiction (1961)
Price: IDR 65,000